Pages

Kamis, 29 Oktober 2009

Hari AKHIRAT - bagian 3

HARI AKHIRAT (3/4)
Dr. M. Quraish Shihab, M.A.

Ibnu Hisyam dalam Sirah-nya menuturkan sebuah riwayat bahwa
Nabi Saw. setelah selesainya Perang Badar, menuju tempat
pemakaman pemuka-pemuka kaum musyrik yang tewas ketika itu,
dan memanggil nama-nama mereka satu per satu:

"Wahai penghuni al-qalib (sumur atau kubur). Hai
'Utbah bin Rabi'ah. Hai Syaibah bin Rabi'ah. Hai
Umayyah bin Khalaf. Hai Abu Jahl bin Hisyam. Apakah
kalian telah menemukan apa yang dijanjikan Tuhan
kalian dengan benar? Karena sesungguhnya aku telah
menemukan apa yang dijanjikan Tuhanku dengan benar."
Kaum Muslim yang ada di sekitar Nabi bertanya: "Wahai
Rasulullah, apakah engkau memanggil/berbicara dengan
kaum yang telah menjadi bangkai (mati)?" Beliau
menjawab: "Kamu tidak lebih mendengar dari mereka
(tentang) apa yang saya ucapkan, hanya saja mereka
tidak dapat menjawab saya."

Di sisi lain Imam Muslim meriwayatkan bahwa Masruq berkata:

"Kami bertanya (atau aku bertanya) kepada Abdullah bin
Mas'ud tentang ayat, Janganlah kamu mengira
orang-orang yang gugur di jalan Allah adalah
orang-orang mati, bahkan mereka hidup di sisi Tuhan
mereka dengan mendapatkan rezeki (QS Ali 'Imran [2]:
169)." Abdullah bin Mas'ud berkata: "Sesungguhnya kami
telah menanyakan hal itu kepada Rasulullah Saw., dan
beliau bersabda, 'Arwah mereka di dalam rongga burung
(berwarna) hijau dengan pelita-pelita yang tergantung
di 'Arsy, terbang dengan mudah di surga ke manapun
mereka kehendaki, kemudian kembali lagi ke
pelita-pelita itu. Tuhan mereka "mengunjungi" mereka
dengan kunjungan sekilas dan berfirman: "Apakah kalian
menginginkan sesuatu?" Mereka menjawab: "Apalagi yang
kami inginkan sedangkan kami terbang dengan mudahaya
di surga, ke mana pun kami kehendaki?" Tuhan melakukan
hal yang demikian terhadap mereka tiga kali dan ketika
mereka sadar bahwa mereka tidak akan dibiarkan tanpa
meminta sesuatu, mereka berkata: "Wahai Tuhan, kami
ingin agar arwah kami dikembalikan ke jasad kami
sehingga kami dapat gugur terbunuh pada jalan-Mu
(sabilillah) sekali lagi. Setelah Tuhan melihat bahwa
mereka tidak memiliki keinginan lagi di sana (lebih
dari apa yang mereka peroleh selama ini) maka mereka
dibiarkan."'

Ada juga riwayat yang dinisbahkan kepada Ali bin Abi Thalib
bahwa beliau bertanya kepada Yunus bin Zibyan: "Bagaimana
pendapat orang tentang arwah orang-orang mukmin?" Yunus
menjawab: "Mereka berkata bahwa arwahnya berada di rongga
burung berwarna hijau di dalam pelita-pelita di bawah 'Arsy
llahi." Ali bin Abi Thalib berkomentar:

Mahasuci Allah. Seorang mukmin lebih mulia di sisi
Allah untuk ditempatkan ruhnya di rongga burung hijau,
wahai Yunus. Seorang mukmin bila diwafatkan Allah,
ruhnya ditempatkan pada satu wadah sebagaimana
wadahnya ketika di dunia. Mereka makan dan minum,
sehingga bila ada yang datang kepadanya, mereka
mengenalnya dengan keadaannya semasa di dunia.

Boleh jadi ada saja yang bertanya bagaimana kehidupan itu?
Kita tidak dapat menjelaskan. Memang ada saja yang berusaha
mengilmiahkan kehidupan di sana, tetapi agaknya hal tersebut
lebih banyak merupakan kemungkinan, walaupun ada sekian
rtwayat yang dijadikan pegangan.

Mustafa Al-Kik, misalnya, berpendapat bahwa manusia memiliki
"jasad berganda": pertama, jasad duniawi; dan kedua, jasad
barzakhi. Mustafa dalam --Baina 'Alamain-- setelah mengutip
sekian banyak pendapat ulama tentang hal di atas, berusaha
untuk menjelaskan hal tersebut dengan teori frekuensi dan
gelombang-gelombang suara. Contoh konkret yang dikemukakannya
adalah radio yang dapat menangkap sekian banyak suara yang
berbeda-beda melalui gelombang yang berbeda-beda. Walaupun ia
saling masuk-memasuki, namun ia tidak menyatu dan tetap
berbeda. Ini pula yang menjadikan kita tak dapat melihat
sesuatu yang sebenarnya "ada" namun kita tak melihatnya akibat
perbedaan frekuensi dan gelombang-gelombang itu. Apa yang
dikemukakan ini -menurutnya sejalan dengan informasi Al-Quran,
antara lain yang berbicara tentang keadaan seorang yang sedang
sekarat:

Maka mengapa ketika nyawa telah sampai ke
kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat (yang
sekarat), sedangkan (malaikat) Kami lebih dekat
kepadanya darimu, tetapi kamu tidak melihat (QS
AlWaqi'ah [56]: 83-85).

Atau firman-Nya:

Aku (Allah) tidak bersumpah dengan apa yang kamu lihat
dan yang kamu tidak lihat (QS Al-Haqqah [69]: 38-39).

Kedua ayat mulia di atas mengemukakan teori gelombang
dan getaran yang sangat jelas dan gamblang. Keduanya
telah membagi materi menjadi dua macam, yang sejalan
dengan tingkat bumi sehingga dapat dilihat oleh mata,
dan yang tidak sejalan karena tingginya gelombangnya,
sehingga tersembunyi dari pandangan dan tidak terlihat
oleh mata. Dengan demikian kedua ayat tersebut
menunjuk ke alam materi yang terasa oleh kita semua,
dan alam lain yang tinggi yang tersembunyi dari mata
kita. Teori ini juga menafsirkan kepada kita jawaban
Nabi Saw. ketika kaum Muslim mempertanyakan
pembicaraan beliau dengan Ahl Al-Qalib (tokoh-tokoh
kaum musyrik yang gugur dalam peperangan Badar)
sebagaimana dikemukakan di atas. (Mustafa Al-Kik dalam
Baina 'Alamain hlm. 51)

Akhirnya betapa pun terdapat sekian banyak ayat dengan
penafsiran-penafsiran di atas, serta ada pula riwayat-riwayat
dari berbagai sumber dan kualitas, namun kita tidak dapat
mencap mereka yang mengingkari kehidupan barzakh, sebagai
orang-orang yang keluar dari keimanan atau ajaran Islam,
selama mereka tetap mengucapkan dua kalimat syahadat. Ini
disebabkan karena akidah harus diangkat dari nash keagamaan
yang pasti, yaitu Al-Quran dan maknanya pun harus pasti.
sedangkan penafsiran-penafsiran yang dikemukakan di atas belum
mencapai tingkat kepastian yang dapat dijadikan akidah.

KEHIDUPAN AKHIRAT

Kehidupan akhirat dimulai dengan peniupan sangkakala:

Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup, dan
diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan
keduanya sekali bentur. Maka hari itu terjadilah hari
kiamat, dan terbelahlah langit sehingga hari itu
langit menjadi lemah (QS Al-Haqqah [69]: 13-16).

Dalam ayat lain dijelaskan bahwa:

... dan ditiup sangkakala sehingga matilah siapa
(rnakhluk) yang di langit dan di bumi, kecuali siapa
yang dikehendaki Allah (QS Al-Zumar [39]: 68).

Yang dikecualikan antara lain adalah malaikat Israfil yang
bertugas meniup sangkakala itu. Ini karena masih akan ada
peniupan kedua sebagaimana lanjutan ayat di atas:

Kemudian ditiupkan sangkakala itu sekali lagi, maka
tiba-tiba mereka (semua yang telah mati) berdiri
menunggu (putusan Tuhan terhadap masing-masing) (QS
Al-Zumar [39]: 68).

Banyak sekali ayat Al-Quran yang berbicara tentang kehancuran
alam raya, matahari digulung, bulan terbelah, bintang-bintang
pudar cahayanya, gunung dihancurkan sehingga menjadi debu yang
beterbangan bagaikan kapas, dan sebagainya. Itu semua
merupakan kehancuran total, bukan kehancuran bagian tertentu
saja dari alam raya ini.

Begitu manusia dihidupkan kembali dengan peniupan sangkakala
kedua, tiba-tiba:

Sambil menundukkan pandangan, mereka keluar dari kubur
mereka bagaikan belalang yang beterbangan. Mereka
datang dengan cepat kepada penyeru itu. Orang-orang
kafir -ketika itu- berkata: "Ini adalah hari yang
sulit." (QS Al-Qamar [54]: 7-8).

Ada jarak waktu antara peniupan pertama dan kedua. Hanya Allah
yang mengetahui kadar waktu itu. Dan ketika semua makhluk
telah meninggal, termasuk Israfil, Allah Swt. "berseru" dan
"bertanya":

Kepunyaan siapakah kerajaan/kekuasaan hari ini?
(Kemudian Allah menjawabnya sendiri): "Kepunyaan Allah
yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan" (QS Mu'min [40]:
16).

Saat peniupan kedua, manusia sadar bahwa kehidupan di dunia
hanya sebentar (QS Al-Isra' [17]: 43) bahkan mereka merasa
hanya bagaikan boberapa saat di sore atau pagi hari (QS
Al-Nazi'at [79]: 46).

Dari sana manusia digiring ke mahsyar (tempat berkumpul untuk
menghadapi pengadilan Ilahi):

Setiap jiwa datang dengan satu penggiring dan satu
penyaksi (QS Qaf [50]: 21).

Penggiring adalah malaikat dan penyaksi adalah diri manusia
sendiri yang tidak dapat mengelak, atau amal perbuatannya
masing-masing. Begitu penafsiran para ulama.

Dan ketika itu terjadilah pengadilan agung.

Pada hari itu yang menjadi saksi atas mereka adalah
lidah, tangan, dan kaki mereka, menyangkut apa yang
dahulu mereka lakukan (QS Al-Nur [24]: 24).

Bahkan boleh jadi, mulut mereka ditutup dan yang berbicara
adalah tangan mereka kemudian kaki mereka yang menjadi
saksi-saksinya Sebagaimana ditegaskan dalam surat Ya Sin (36):
65.

Yang ingin diinformasikan oleh ayat-ayat di atas dan
semacamnya adalah bahwa pada hari itu tidak ada yang dapat
mengelak, tidak ada juga yang dapat menyembunylkan sesuatu di
hadapan pengadilan yang maha agung itu.

Siapa yang mengerjakan (walau) sebesar zarrah (dari
kebaikan). maka dia akan melihat (ganjarannya) (QS
Az-Zilzal [99]: 7).

Demikian pula sebaliknya (baca surat Al-Zilzal [99]: 8).

Pengadilan Ilahi itu akan diadakan terhadap setiap pribadi
mukalaf,

"Tidak ada satupun di langit dan di bumi kecuali akan
datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang
hamba. Sesungguhnya Tuhan telah menentukan jumlah
mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang
teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah
dengan sendiri-sendiri (QS Maryam [19]: 93-95)

Pengadilan itu menggunakan "timbangan" yang hak sehingga tidak
ada yang teraniaya karena walau sebesar biji sawi pun Tuhan
akan mendatangkan ganjarannya. (Baca QS Al-Anbiyat [21]: 47).
Apakah timbangan itu sesuatu yang bersifat material atau hanya
kiasan tentang keadilan mutlak, tidaklah banyak pengaruhnya
dalam akidah, selama diyakini bahwa ketika itu tidak ada lagi
sedikit penganiayaan pun. Yang pasti adalah:

Timbangan pada hari itu adalah kebenaran. Barangsiapa
yang berat timbangan (amal salehnya) maka mereka
adalah orang-orang beruntung, dan siapa yang ringan
timbangan kebaikannya maka itulah orang-orang yang
merugikan dirinya sendiri disebabkan mereka selalu
mengingkari ayat-ayat Kami (QS Al-A'raf [7]: 8-9)

Hasil pencatatan amal manusia yang ditimbang itu, akan
diserahkan kepada setiap orang:

Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitab
(catatan amalnya) dari arah kanannya, maka (dengan
gembira) ia berkata: "Inilah, bacalah kitabku ini.
Sesungguhnya (sejak dahulu di dunia) aku yakin bahwa
sesungguhnya aku akan menemui hisab (perhitungan) atas
diriku." Maka orang itu berada dalam kehidupan yang
diridhai; dalam surga yang tinggi, buah-buahannya
dekat. (Kepada mereka dikatakan): "Makan dan minumlah
dengan sedap dikarenakan amal-amal yang telah kamu
kerjakan di hari-hari terdahulu (di dunia)." Adapun
yang diberikan kepadanya kitabnya dari arah kirinya,
maka dia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya kiranya
tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak
mengetahui apa hisab (perhitungan) terhadap diriku.
Aduhai, kiranya kematian itulah yang menyelesaikan
segala sesuatu. Hartaku sama sekali tidak memberi
manfaat bagiku. Telah hilang kekuasaan dariku" (QS
Al-Haqqah [69]: 19-29).

Dari mahsyar (tempat berkumpul), manusia menuju surga atau
neraka. Beberapa ayat dalam Al-Quran menginformasikan bahwa
dalam perjalanan ke sana mereka melalui apa yang dinamai "
shirath" .

Antarlah mereka (hai malaikat) menuju Shirath Al-Jahim
(QS Al-Shaffat [37]: 23).

Dalam konteks pembicaraan tentang hari akhirat, Allah
berfirman:

Dan jika Kami menghendaki, pastilah Kami hapuskan
penglihatan mata mereka, lalu mereka berlomba-lomba
(mencari) ash-shirath (jalan). Maka, bagaimana mereka
dapat melihatnya? (QS Ya Sin [36]: 66).

Di sisi lain Allah menegaskan pula bahwa:

Dan tidak seorang pun di antara kamu kecuali
melewatinya (neraka). Hal itu bagi Tuhanmu adalah
suatu kemestian yang sudah ditetapkan-Nya. Kemudian
Kami menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan
membiarkan orang-orang yang zalim, di dalam neraka
dalam keadaan berlutut (QS Maryam [19]: 71-72).

Berdasar ayat-ayat tersebut, sementara ulama berpendapat bahwa
ada yang dinamai "shirath" -berupa jembatan yang harus dilalui
setiap orang menuju surga. Di bawah jalan (jembatan) itu
terdapat neraka dengan segala tingkatannya. Orang-orang mukmin
akan melewatinya dengan kecepatan sesuai dengan kualitas
ketakwaan mereka. Ada yang melewatinya bagaikan kilat, atau
seperti angin berhembus, atau secepat lajunya kuda; dan ada
juga yang merangkak, tetapi akhirnya tiba juga. Sedangkan
orang-orang kafir akan menelusurinya pula tetapi mereka jatuh
ke neraka di tingkat yang sesuai dengan kedurhakaan mereka.

Konon shirath itu lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari
pedang,

[kalimat dalam bahasa Arab]

Demikian kata Abu Sa'id sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari
dan Muslim.

Para ulama khususnya kelompok Mu'tazilah yang sangat rasional
menolak keberadaan shirath dalam pengertian material di atas,
lebih-lebih melukiskannya "dengan sehelai rambut di belah
tujuh". Memang, melukiskannya seperti itu, paling tidak,
bertentangan dengan pengertian kebahasaan dari kata shirath.
Kata tersebut berasal dari kata saratha yang arti harfiahnya
adalah "menelan". Kata shirath antara lain diartikan "jalan
yang lebar", yang karena lebarnya maka seakan-akan ia menelan
setiap yang berjalan di atasnya.

----------------
bersambung 4/4

0 vxcfgdsdhghgwegf yfteift:

Bagi teman yang ingin membaca Al-qur'an sila klik disini! dan jika ingin membaca Al-qur'an dan terjemahanya sila klik disini!

Pasang Iklan Gratiiisss

ads ads ads ads ads ads

Sudah siap Memulai Bisnis Internet ?

Bagi anda yang pengen dapat uang saku tambahan silakan coba yang satu ini, anda hanya di minta untuk mengklik iklan lalu anda dibayar.buruan daftar di donkeymails bawah ini DonkeyMails.com: No Minimum Payout

PUISI KU

Untaian Rindu Kurindu padaMu ... Kerinduanku ingin bisa lebih dekat denganMu Kuingin lebih merasakan kebersamaan denganMu Kuingin dihatiku Kau bersemayam Diatas segala-galanya Kapan aku bisa mencintaiMu Lebih dalam ... Dan jauh lebih tulus Aku benar-benar merindukanMu Rinduku yang tak berujung padaMu Rasa rindu yang mendalam Didalam hati Berilah percikan cintaMu didalam hati Hatiku haus akan cintaMu Dan begitu rindu akan diriMu

Ilmu Islam

  1. Ya ALLAH
  2. Pikirkan dan Syukurilah!
  3. Yang Lalu Biar Berlalu
  4. Hari Ini Milik Anda
  5. Biarkan Masa Depan Datang Sendiri
  6. Cara Mudah Menghadapi Kritikan Pedas
  7. Jangan Mengharap "Terima Kasih" dari Seseorang
  8. Berbuat Baik Terhadap Orang Lain, Melapangkan Dada...
  9. Isi Waktu Luang Dengan Berbuat!
  10. Jangan Latah!
  11. Qadha' dan Qadar
  12. Bersama Kesulitan Ada Kemudahan
  13. Jadikan Buah Lemon Itu Minuman yang Manis!
  14. Siapakah yang Memperkenankan Doa Orang yang Kesuli...
  15. Semoga Rumahmu Membuat Bahagia
  16. Ganti Itu dari Allah
  17. Iman Adalah Kehidupan
  18. Ambil Madunya, Tapi Jangan Hancurkan Sarangnya!
  19. "Dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang."
  20. "Ataukah mereka dengki pada manusia atas apa yang ...
  21. Hadapi Hidup Ini Apa Adanya!
  22. Yakinilah Bahwa Anda Tetap Mulia Bersama Para Pene...
  23. Shalat.... Shalat....
  24. "Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah ad...
  25. "Katakanlah: 'Berjalanlah di muka bumi!'"
  26. Sabar Itu Indah ...
  27. Jangan Meletakkan Bola Dunia di Atas Kepala!
  28. Jangan Sampai Hal-hal yang Sepele Membinasakan And...
  29. Terimalah Setiap Pemberian Allah dengan Rela Hati,...
  30. Selalu Ingatlah Pada Surga yang Seluas Langit dan ...
  31. "Demikianlah, Telah Kami Jadikan Kamu Umat Yang Ad...
  32. 32. Bersedih: Tak Diajarkan Syariat dan Tak Bermanfaat...
  33. Rehat
  34. Tersenyumlah!
  35. Rehat 2
  36. Nikmatnya Rasa Sakit
  37. Nikmatnya Rasa Sakit
  38. Seni Bergembira
  39. Rehat 3
  40. Mengendalikan Emosi
  41. Kebahagiaan Para Sahabat Bersama Rasulullah s.a.w....
  42. Enyahkan Kejenuhan dari Hidupmu!
  43. Buanglah Rasa Cemas!
  44. Rehat 4
  45. Jangan Bersedih, Karena Rabb Maha Pengampun Dosa d...
  46. Jangan Bersedih, Semua Hal Akan Terjadi Sesuai Qad...
  47. Jangan Bersedih, Tunggulah Jalan Keluar!
  48. Rehat 5
  49. Jangan Bersedih, Perbanyaklah Istighfar Karena All...
  50. Jangan Bersedih, Ingatlah Allah Selalu!
  51. Jangan Bersedih dan Putus Asa dari Rahmat Allah!
  52. Jangan Bersedih Atas Kegagalan, Karena Anda Masih ...
  53. Jangan Bersedih Atas Sesuatu yang Tak Pantas Anda ...
  54. Jangan Bersedih, Usirlah Setiap Kegalauan!
  55. Jangan Bersedih Bila Kebaikan Anda Tak Dihargai Or...
  56. Jangan Bersedih Atas Cercaan dan Hinaan Orang!
  57. Jangan Bersedih Atas Sesuatu yang Sedikit, Sebab P...
  58. Jangan Bersedih Atas Apa yang Masih Mungkin Akan T...
  59. Jangan Bersedih Menghadapi Kritikan dan Hinaan! Se...
  60. Rehat 6
  61. Jangan Bersedih! Pilihlah Apa yang Telah Dipilih A...
  62. Jangan Bersedih dan Mempedulikan Perilaku Orang
  63. Jangan Bersedih dan Pahamilah Harga yang Anda Sedi...
  64. Jangan Bersedih Selama Anda Masih Dapat Berbuat Ba...
  65. Jangan Bersedih Jika Mendengar Kata-kata Kasar, Ka...
  66. Rehat 7
  67. Jangan Bersedih! Sebab Bersabar Atas Sesuatu yang ...
  68. Jangan Bersedih Karena Perlakuan Orang Lain, Tapi ...
  69. Jangan Bersedih Karena Rezeki yang Sulit
  70. Jangan Bersedih, Karena Masih Ada Sebab-sebab yang...
  71. Jangan Memakai Baju Kepribadian Orang Lain
  72. 'Uzlah dan Dampak Positifnya
  73. Jangan Bersedih Karena Tertimpa Kesulitan!
  74. Rehat 8
  75. Jangan Bersedih, Inilah Kiat-Kiat untuk Bahagia
  76. Ulasan AL QURAN 1
  77. Ulasan AL QURAN 2
  78. Ulasan Mengenai TUHAN 1
  79. Ulasan Mengenai TUHAN 2
  80. Ulasan Mengenai TUHAN 3
  81. Ulasan Mengenai TUHAN 4
  82. Tentang Nabi MUHAMMAD S.A.W
  83. Tentang Nabi MUHAMMAD S.A.W - bagian 2
  84. Tentang Nabi MUHAMMAD S.A.W - bagian 3
  85. TAKDIR
  86. TAKDIR - bagian 2
  87. 87. TAKDIR - bagian 3
  88. KEMATIAN
  89. KEMATIAN - bagian 2
  90. Hari AKHIRAT
  91. Hari AKHIRAT - bagian 2
  92. Hari AKHIRAT - bagian 3
  93. Hari AKHIRAT - bagian 4
  94. Keadilan dan Kesejahteraan
  95. Keadilan dan Kesejahteraan - bagian 2
  96. Keadilan dan Kesejahteraan - bagian 3
  97. Makanan
  98. Ahklak bagian 2
  99. Ahklak bagian 3
  100. PAKAIAN
  101. PAKAIAN bagian 2
  102. PAKAIAN bagian 3
  103. PAKAIAN bagian 4
  104. Akhlak
  105. KESEHATAN
  106. KESEHATAN bagian 2
  107. PERNIKAHAN
  108. PERNIKAHAN bagian 2
  109. PERNIKAHAN bagian 3
  110. SYUKUR
  111. SYUKUR bagian 2
  112. SYUKUR bagian 3
  113. HALAL BIHALAL
  114. HALAL BIHALAL bagian 2
  115. MANUSIA
  116. MANUSIA bagian 2
  117. MANUSIA bagian 3
  118. PEREMPUAN
  119. PEREMPUAN bagian 2
  120. PEREMPUAN bagian 3
  121. PEREMPUAN bagian 4
  122. Masyarakat
  123. UMMAT
  124. KEBANGSAAN
  125. KEBANGSAAN bagian 2
  126. KEBANGSAAN bagian 3
  127. AHL AL KITAB
  128. AHL AL KITAB bagian 2
  129. AHL AL KITAB bagian 3
  130. AHL AL KITAB bagian 4
  131. AGAMA
  132. SENI
  133. SENI bagian 2
  134. EKONOMI
  135. EKONOMI bagian 2
  136. POLITIK
  137. POLITIK
  138. POLITIK bagian 2
  139. ILMU dan TEKNOLOGI
  140. ILMU dan TEKNOLOGI bagian 2
  141. KEMISKINAN
  142. MASJID
  143. MUSYAWARAH
  144. MUSYAWARAH bagian 2
  145. Ukhuwah
  146. Ukhuwah bagian 2
  147. JIHAD
  148. JIHAD bagian 2
  149. P U A S A
  150. P U A S A bagian 2
  151. LAILATUL QADAR
  152. W A K T U
  153. W A K T U bagian 2
  154. Nasihat untuk Menikah Menurut Islam
  155. Di Jalan Dakwah Aku Menikah
  156. Ringkasan buku : Aku Ingin Menikah, Tapi ... ::..
  157. ALASAN TEPAT UNTUK MENIKAH
  158. Keotentikan Al-Quran
  159. Bukti-bukti Kesejarahan Al - qur'an
  160. Penulisan Mushhaf Al-Qur'an
  161. Bukti Kebenaran Al-Quran bagian 1
  162. Bukti Kebenaran Al-Quran bagian 2
  163. Sejarah Turunnya dan Tujuan Pokok Al-Quran
  164. Periode Turunnya Al-Quran bagian 1
  165. Periode Turunnya Al-Quran bagian 2
  166. Periode Turunnya Al-Quran bagian 3
  167. Dakwah menurut Al-Quran
  168. Tujuan Pokok Al-Quran
  169. Kebenaran Ilmiah Al-Quran
  170. Sistem Penalaran menurut Al-Quran
  171. Ciri Khas Ilmu Pengetahuan
  172. Perkembangan Tafsir
  173. Hikmah Ayat Ilmiah Al-Quran
  174. Mengapa Tafsir Ilmiah Meluas? bagian 1
  175. Mengapa Tafsir Ilmiah Meluas? bagian 2
  176. Bagaimana Memahami Al-Quran di Masa Kini? bagian 1...
  177. Bagaimana Memahami Al-Quran di Masa Kini? bagian 2...
  178. Al-Quran, Ilmu, dan Filsafat Manusia
  179. Al-Quran di Tengah Perkembangan Ilmu
  180. Al-Quran di Tengah Perkembangan Ilmu bagian 2
  181. Al-Quran di Tengah Perkembangan Filsafat
  182. Al-Quran di Tengah Perkembangan Filsafat bagian 2
  183. Sejarah Perkembangan Tafsir
  184. Kodifikasi Tafsir
  185. Metode Tafsir
  186. Kebebasan dan Pembatasan dalam Tafsir
  187. Kebebasan dalam Menafsirkan Al-Quran
  188. Pembatasan dalam Menafsirkan Al-Quran bagian 1
  189. Pembatasan dalam Menafsirkan Al-Quran bagian 2
  190. Perubahan Sosial
  191. Perkembangan Ilmu Pengetahuan
  192. Bidang Bahasa
  193. Haramnya durhaka kepada kedua orang tua
  194. Syirik Kecil bagian 1
  195. Syirik Kecil bagian 2
  196. HUKUM MERAYAKAN HARI VALENTINE bagia 1
  197. HUKUM MERAYAKAN HARI VALENTINE bagia 2
  198. Hukum Mengenakan Pakaian Yang Bergambar Dan Menyim...
  199. Perkembangan Metodologi Tafsir
  200. Perkembangan Metodologi Tafsir 2
  201. Perkembangan Metodologi Tafsir 3
  202. Tafsir dan Modernisasi
  203. Tafsir dan Modernisasi 2
  204. Penafsiran Ilmiah Al-Quran
  205. Penafsiran Ilmiah Al-Quran 2
  206. Penafsiran Ilmiah Al-Quran 3
  207. Penafsiran Ilmiah Al-Quran 4
  208. Metode Tafsir Tematik
  209. Beberapa Problem Tafsir
  210. Metode Mawdhu'iy
  211. Keistimewaan Metode Mawdhu'iy
  212. Perbedaan Metode Mawdhu'iy dengan Metode Analisis
  213. Perbedaan Metode Mawdhu'iy dengan Metode Komparasi...
  214. Hubungan Hadis dan Al-Quran
  215. Fungsi Hadis terhadap Al-Quran
  216. Pemahaman atas Makna Hadis
  217. Fungsi dan Posisi Sunah Dalam Tafsir bgn 1
  218. Fungsi dan Posisi Sunah Dalam Tafsir bgn 2
  219. Ayat-ayat Kawniyyah dalam Al-Quran
  220. Al-Qur'an dan Alam Raya
  221. Pendapat Para Ulama tentang Penafsiran Ilmiah
  222. Segi Bahasa Al-Quran dan Korelasi Antar Ayatnya
Diberdayakan oleh Blogger.

Followers