Pages

Minggu, 18 Oktober 2009

"Demikianlah, Telah Kami Jadikan Kamu Umat Yang Adil dan Pilihan."


Keadilan merupakan tuntutan akal dan juga syariat. Keadilan adalah
tidak berlebihan-lebihan, tidak melampui batas, tidak memboros-boroskan,
dan tidak menghambur-hamburkan. Maka, barangsiapa menginginkan
kebahagiaan, ia harus senantiasa mengendalikan setiap perasaan dan
keinginannya. Dan ia harus pula mampu bersikap adil dalam kerelaan dan
kemurkaannya, dan juga adil dalam kegembiraan dan kesedihannya.
Betapapun, tindakan berlebihan dan melampui batas dalam menyikapi segala
peristiwa merupakan wujud kezaliman kita terhadap diri kita sendiri.
Dubai, betapa bagusnya keadilan itu! Betapa tidak, syariah senantiasa
ditetapkan dengan prinsip keadilan. Demikian pula dengan kehidupan ini:
ia pun berjalan sesuai dengan konsep keadilan pula. Manusia yang paling
sengsara adalah dia yang menjalani kehidupan ini dengan hanya mengikuti
hawa nafsu dan menuruti setiap dorongan emosi serta keinginan hatinya.
Pada kondisi yang demikian itu, manusia akan merasa setiap peristiwa
menjadi sedemikian berat dan sangat membebani, seluruh sudut kehidupan
ini menjadi semakin gelap gulita, dan kebencian, kedengkian serta dendam
kesumat pun mudah bergolak di dalam hatinya.
Dan akibatnya, semua itu membuat seseorang hidup dalam dunia
khayalan dan ilusi. Ia akan memandang setiap hal di dunia ini musuhnya,
ia menjadi mudah curiga dan merasa setiap orang di sekelilingnya sedang berusaha menyingkirkan dirinya, dan ia akan selalu dibayangi rasa was-was
dan kekhawatiran bahwa dunia ini setiap saat akan merenggut
kebabagiannya. Demikianlah, maka orang seperti itu senantiasa hidup di
bawah naungan awan hitam kecemasan, kegelisahan dan kegundahan.
Menyebarkan desas-desus yang dapat menggelisahkan orang lain sangat
dilarang oleh syariat dan termasuk tindakan murahan. Dan itu, hanya akan
dilakukan oleh orang-orang yang miskin nilai-nilai moral dan jauh dari
ajaran-ajaran ketuhanan. Begitulah, maka
{Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras itu ditujukan kepada mereka.
Mereka itulah musuh (yang sebenarnya).}
(QS. Al-Munafiqun: 4)
Dudukkanlah hati Anda pada kursinya, niscaya kebanyakan hal yang
dikhawatirkannya tak akan pernah terjadi. Dan sebelum sesuatu yang Anda
cemaskan itu benar-benar terjadi, perkirakan saja apa yang paling buruk
darinya. Kemudian, persiapkan diri Anda untuk menghadapinya dengan
tenang. Dengan begitu, Anda akan dapat menghindari semua bayanganbayangan
menakutkan yang acapkali sudah mencabik-cabik hati sebelum
benar-benar terjadi.
Wahai orang yang berakal dan sadar, tempatkan segala sesuatu itu
sesuai dengan ukurannya. Jangan membesar-besarkan peristiwa dan masalah
yang ada. Bersikaplah secara adil, seimbang dan jangan berlebihan. Jangan
pula larut dalam bayang-bayang semu dan fatamorgana yang menipu!
Camkanlah makna keseimbangan antara kecintaan dan kebencian yang
diajarkan dalam hadits Rasulullah berikut: "Cintailah orang yang Anda cintai
sesuai dengan kadarnya, sebab bisa saja suatu hari nanti dia menjadi musuhmu.
Dan, bencilah musuhmu sesuai dengan kadarnya, sebab bisa saja suatu hari nanti
dia menjadi orang yang Anda cintai."
Renungkan pula firman Allah berikut,
{Mudah-mudah Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang
yang kamu musuhi di antara mereka. Dan, Allah Maha Kuasa lagi Maha
Penyayang.}
(QS. Al-Mumtahanah: 7)
Dan ingat, sesungguhnya kebanyakan kekhawatiran dan desas-desus
itu sedikit kebenarannya dan jarang pula yang benar-benar terjadi.

Sbr: Buku LA TAHZAN

Selalu Ingatlah Pada Surga yang Seluas Langit dan Bumi!


Jika selama di dunia ini Anda menderita kelaparan, jatuh miskin,
senantiasa dilanda kesedihan, menderita penyakit yang tak kunjung sembuh,
selalu mengalami kerugian, atau diperlakukan secara zalim, maka ingatkan
diri Anda pada kenikmatan surga yang lebih kekal abadi. Apabila Anda
benar-benar meyakini "jalan" ini dan mengamalkannya dengan benar, niscaya
Anda akan mampu merubah setiap kerugian menjadi keuntungan dan setiap
bencana menjadi nikmat. Orang yang paling berakal adalah yang senantiasa
melakukan sesuatu untuk akhirat dengan keyakinan bahwa akhirat itu lebih
baik dan kekal abadi. Sebaliknya, manusia yang paling bodoh di dunia adalah
mereka yang memandang dunia ini sebagai segalanya: tempat dan tujuan
akhir dari semua harapan.
Karena itu, tidak mengherankan bila Anda melihat mereka adalah
orang-orang yang paling gelisah ketika menghadapi suatu musibah dan paling
mudah larut dalam penyesalan saat malapetaka merenggut semua milik mereka. Itu semua, tak lain dikarenakan mereka hanya memandang,
memikirkan, mementingkan dan hanya berbuat segala sesuatu yang
berkaitan dengan urusan kehidupan dunia yang sangat singkat, fana, dan
tidak bernilai ini. Bahkan, seolah-olah mereka tak rela sedikitpun keceriaan
dan kegembiraan mereka di dunia ini terkotori dan terusik oleh hal apapun.
Padahal, seandainya mereka melepas tabir kesedihan yang menutupi hati
mereka dan membuka katup kebodohan yang menempel di mata mereka
itu, niscaya mereka akan berbicara kepada jiwa mereka tentang masih adanya
tempat tinggal yang kekal abadi (akhirat), pelbagai kenikmatan di dalamnya,
dan juga tentang istana-istananya yang megah. Lebih dari itu, mereka juga
akan senantiasa terdiam khidmat mendengarkan penjelasan-penjelasan
wahyu Ilahi tentang alam lain yang lebih kekal abadi. Dan sesungguhnya
—demi Allah— alam itulah yang sebenar-benarnya tempat kembali (rumah)
yang layak untuk diperhatikan dan diraih dengan usaha yang keras.
Pernahkah kita merenungkan secara mendalam bahwa sesungguhnya
para penghuni surga itu tak akan pernah sakit, tak mungkin bersedih hati,
tak bakal mati, tak pernah menjadi tua, dan pakaian mereka tak akan lusuh
sedikitpun? Pernahkah kita menghayati wahyu Ilahi yang menyatakan
bahwasanya para penghuni surga itu akan menempati istana-istana yang
bagian luarnya terlihat dari dalam dan bagian dalamnya terlihat dari mar?
Pernahkah kita mengingatkan diri kita dengan kebenaran berita Ilahi yang
mengatakan bahwa di surga terdapat semua hal yang tidak pernah dilihat
oleh mata, terdengar oleh telinga, dan terbetik di dalam hati manusia?
Cobalah Anda renungkan kabar Ilahi yang menyatakan bahwa sebatang
pohon di surga tak akan selesai dikelilingi oleh seorang pengendara kendaraan
selama seratus tahun lebih! Ingatkan pula diri Anda bahwa panjang sebuah
kemah yang didirikan di surga dapat mencapai tujuh puluh mil lebih, sungaisungainya
mengalir dengan deras, istana-istananya sangat indah nan megah,
buah-buahannya menggelayut rendah hingga mudah dipetik, mata airnya
mengalir deras, tahta-tahtanya demikian tinggi, gelas-gelasnya tertata rapi,
bantal-bantal sandarannya tersusun rapi, dan permadani-permadaninya
terhampar luas!
Demikianlah, Anda seyogyanya selalu mengingatkan diri sendiri bahwa
di surga itu terdapat kesenangan yang sempurna, kegembiraan yang agung,
dan semerbak wangi yang membuai hidung. Dan penjabaran tentang semua
keistimewaan surga itu tak akan habis dalam waktu sesingkat ini. Pasalnya,
di dalam surga terdapat pelbagai keinginan yang pasti dikabulkan. Maka
dari itu, mengapa kita sering lupa memikirkan semua itu dan berbuat segala
sesuatu untuk meraihnya? Renungkanlah! Apabila tujuan akhir dari perjalanan seorang manusia adalah "rumah"
yang kekal abadi ini, niscaya setiap bencana akan terasa ringan, pelbagai
beban kehidupan akan membuat mata tetap berbinar, dan seraua
kesengsaraan hidup tetap dapat dijalani dengan riang hati.
Maka dari itu, wahai orang-orang yang merasa sedang dilindas
kemiskinan, diliputi kesusahan, dan dililit berbagai macam kesulitan, teruslah
berbuat kesalihan! Dengan begitu, niscaya kalian akan tinggal di surga Allah,
berdekatan dengan-Nya dan senantiasa mensucikan nama-nama-Nya.
Demikianlah, maka,
{Salamun 'alaikum bima shabartum. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan
itu.}
(QS. Ar-Ra'd: 24)

Sbr: buku LA TAHZAN

Terimalah Setiap Pemberian Allah dengan Rela Hati, Niscaya Anda Menjadi Manusia Paling Kaya


Sebelumnya, hal ini telah banyak dijelaskan; yakni beberapa makna
dan faedah dari kerelaan hati seseorang dalam menerima setiap pemberian
atau ketentuan Allah. Namun, kali ini saya akan membahasnya secara lebih
panjang lebar untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik. Singkatnya,
makna sikap ini adalah bahwa Anda harus rela hati dan puas dengan setiap
pemberian Allah; baik itu yang berupa raga, harta, anak, tempat tinggal
ataupun bakat kemampuan. Dan, makna inilah yang tersirat dari ayat al-
Qur'an berikut,
{Sebab itu, berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan
hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.} (QS. Al-A'raf: 144)
Sebagian besar ulama salafus salih dan generasi awal umat ini adalah orang-
orang yang secara materi termasuk fakir miskin. Mereka tidak memiliki
harta yang berlimpah, rumah yang megah, kendaraan yang bagus, dan juga
pengawal pribadi. Meski demikian, mereka ternyata mampu membuat kehidupan
ini justru lebih bermakna serta membuat diri mereka dan masyarakatnya lebih
bahagia. Yang demikian itu, adalah karena mereka senantiasa memanfaatkan
setiap pemberian Allah di jalan yang benar. Dan karena itu pula, umur, waktu,
dan kemampuan atau ketrampilan mereka menjadi penuh berkah. Kebalikan
dari kelompok manusia yang diberkahi ini adalah mereka yang dikarunia Allah
dengan kekayaan yang meruah, anak yang banyak, dan nikmat yang berlimpah.
Tetapi semua itu justru menyebabkan diri mereka senantiasa merasa penuh
penderitaan, kecemasan dan kegelisahan. Adapun penyebabnya, tak lain adalah
karena mereka telah menyimpang dari fitrah dan tuntunan hidup yang benar.
Ini menjadi bukti nyata bahwa segala sesuatu (kekayaan, anak, pangkat, jabatan,
kehormatan dan lain sebagainya) adalah bukan segala-galanya.
Lihatlah, betapa banyak sarjana atau doktor yang tidak dapat memberi
kontribusi, pemikiran dan pengaruh yang cukup bagi masyarakatnya. Namun
sebaliknya; tak sedikit manusia yang dengan ilmu dan kemampuannya yang
sangat terbatas justru mampu membangun sungai yang senantiasa
mengalirkan manfaat, kebaikan, dan kemakmuran bagi sesama manusia.
Jika Anda ingin bahagia, maka terimalah dengan rela hati bentuk
perawakan tubuh yang diciptakan Allah untuk Anda, apapun kondisi
keluarga Anda, bagaimanapun suara Anda, seperti apapun kemampuan daya
tangkap dan pemahaman Anda, serta seberapapun penghasilan Anda.
Bahkan, kalau ingin meneladani para guru sufi yang zuhud, maka
sesungguhnya mereka telah melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar
apa yang disebutkan itu. Mereka selalu berkata, "Seyogyanya Anda senantiasa
tetap senang hati menerima sesedikit apapun yang Anda miliki dan rela
dengan segala sesuatu yang tidak Anda miliki."
Berikut ini adalah beberapa tokoh terkenal yang kehidupan duniawi
mereka kurang beruntung.
1. Atha' ibn Rabah, orang yang paling alim pada zamannya adalah
seorang mantan budak berkulit hitam, berhidung pesek, lumpuh tangannya,
dan berambut keriting.
2. Ahnaf ibn Qais, orang Arab yang dikenal paling sabar dan penyantun
ini sangat kurus tubuhnya, bongkok punggungnya, melengkung betisnya
dan lemah postur tubuhnya. 3. al-A'masy, ahli hadits kenamaan di dunia ini adalah sosok manusia
yang sayu sorot matanya dan seorang mantan budak yang fakir, compangcamping
baju yang dikenakannya, dan tidak menarik penampilan diri dan
rumahnya.
Bahkan, semua nabi dan rasul Allah adalah pernah menjadi
penggembala kambing. Dan, meskipun mereka termasuk manusia-manusia
pilihan Allah dan sebaik-baik manusia, pekerjaan mereka pun tak jauh beda
dengan manusia pada umumnya. Nabi Daud adalah seorang tukang besi,
Nabi Zakaria seorang tukang kayu, dan Nabi Idris seorang tukang jahit.
Kita tahu bahwa mereka adalah orang-orang pilihan.
Ini mengisyaratkan bahwa harga diri Anda ditentukan oleh
kemampuan, amal salih, kemanfaatan, dan akhlak Anda. Karena itu,
janganlah Anda bersedih dengan wajah yang kurang cantik, harta yang tak
banyak, anak yang sedikit, dan rumah yang tak megah! Singkatnya,
terimalah setiap pembagian Allah dengan penuh kerelaan hati.
{Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan
dunia.}
(QS. Az-Zukhruf: 32)

Sbr: buku LA TAHZAN

Jangan Sampai Hal-hal yang Sepele Membinasakan Anda!


Banyak orang bersedih hanya karena hal-hal sepele yang tak berarti.
Perhatikanlah orang-orang munafik; betapa rendahnya semangat dan tekad
mereka. Berikut ini adalah perkataan-perkataan mereka:
{Janganlah kamu sekalian berangkat (pergi berperang) di dalam panas terik ini.}
(QS. At-Taubah: 81)
{Berilah kami izin (tidak pergi berperang) dan janganlah menjadikan saya
terjerumus ke dalam fitnah.}
(QS. At-Taubah: 49)
{Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga).}
(QS. Al-Ahzab: 13)
{Kami takut akan mendapat bencana.}
(QS. Al-Ma'idah: 52)
{Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.}
(QS. Al-Ahzab: 12)
Sungguh, betapa sempitnya hidung-hidung mereka, betapa sengsaranya
jiwa-jiwa mereka. Hidup mereka hanya pada sebatas soal perut, piring, rumah
dan istana. Mereka tidak pernah mau menengadahkan pandangan mereka
ke angkasa kehidupan yang ideal. Mereka juga tak pernah menatap bintangbintang
keutamaan hidup. Kecemasan dan pengetahuan mereka hanya pada
soal kendaraan, pakaian, sandal dan makanan. Coba perhatikan, betapa
banyaknya manusia yang hidupnya dari pagi hingga sore hanya disibukkan
oleh kecemasan dan kegelisahan mereka agar tidak dibenci isteri, anak
atau kerabat dekatnya, atau agar tidak mendapat celaan, atau mengalami
keadaan yang menyedihkan. Ini semua, pada dasarnya justru merupakan
musibah besar bagi manusia-manusia seperti itu. Betapa mereka sama sekali
tidak memiliki tujuan-tujuan yang lebih mulia yang seharusnya menyibukkan
mereka, dan juga kepentingan-kepentingan agung yang seharusnya menyita
seluruh waktu mereka.
Padahal, pepatah mengatakan: "Jika air telah keluar dari bejana, hawa
kosong akan datang memenuhinya." Maka dari itu, bila Anda juga merasa
seperti orang-orang tadi, renungkanlah kembali hal-hal yang selama ini telah
menyita perhatian dan hidup Anda, atau bahkan membuat Anda resah setiap
saat. Benarkah semuanya itu pantas memperoleh perhatian dan porsi yang sedemikian besar dalam hidup Anda? Mengapa Anda harus rela
mengorbankan pikiran, daging darah, ketentraman dan juga waktu hanya
untuk persoalan-persoalan sepele tadi?
Ibarat orang berjual beli, apa yang Anda lakukan itu sebenarnya suatu
keculasan dan kerugian besar yang dibayar murah. Para ahli jiwa sering
mengatakan, "Buatlah batasan yang rasional (wajar) untuk setiap hall" Dan
lebih tepat dari kalimat ini adalah firman Allah,
{Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.}
(QS. Ath-Thalaq: 3)
Yakni, letakkanlah setiap persoalan sesuai dengan ukuran, bobot dan
kadarnya. Janganlah sekali-kali Anda melakukan kezaliman dan melampaui
batas.
Ibaratnya, bila tujuan utama orang-orang yang berbakti kepada Allah
(ketika berada dibawah sebuah pohon) adalah untuk berjual beli, maka mereka
akan mendapatkan ridha Allah. Namun, bila salah seorang dari mereka hanya
disibukkan dengan urusan untanya saja, hingga ia tak sempat ikut berjual
beli, maka yang akan ia peroleh adalah hanya kebinasaan dan kegagalan.
Abaikanlah hal-hal sepele yang tak penting. Jangan sampai Anda hanya
disibukkan olehnya dan waktu Anda habis karenanya. Dengan begitu,
niscaya Anda kegundahan dan kecemasan akan selalu menjauhi Anda.
Dan Anda pun selalu riang ceria.

Sbr: Buku LA TAHZAN

Jangan Meletakkan Bola Dunia di Atas Kepala!

Jangan Meletakkan Bola Dunia di Atas Kepala!
Beberapa orang merasa bahwa diri mereka terlibat dalam perang dunia,
padahal mereka sedang berada di atas tempat tidur. Tatkala perang itu usai,
yang mereka peroleb adalah luka di pencernaan mereka, tekanan darah
ringgi dan penyakit aula. Mereka selalu merasa terlibat dengan semua
peristiwa. Mereka marah dengan naiknya harga-harga, gusar karena hujan
tak segera turun, dan kalang kabut tak karuan karena turunnya nilai mata
uang. Mereka selalu berada dalam kegelisahan dan kesedihan yang tak
berkesudahan. {Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka.}
(QS. Al-Munafiqun: 4)
Nasehat saya untuk Anda: jangan meletakkan bola dunia di atas
kepala. Biarkan semua peristiwa itu terjadi, dan jangan disimpan di dalam
usus. Orang yang memiliki hati seperti bunga karang akan menyerap semua
isu dan kasak-kusuk, termakan oleh masalah-masalah kecil, dan mudah
terguncang karena peristiwa-peristiwa yang terjadi. Hati seperti ini sangat
potensial menjadi awal kehancuran.
Mereka yang berpegang pada prinsip yang benar akan senantiasa
bertambah keimanannya dengan nasehat-nasehat dan 'Ibrah. Sedangkan
mereka yang berpegang pada prinsip yang lemah akan semakin takut terhadap
keguncangan. Di hadapan segala bencana dan musibah, hal yang paling
berguna adalah hati yang berani. Seorang pemberani memiliki sikap yang
teguh dan emosi yang terkendali, keyakinan yang menancap tajam, syaraf
yang dingin dan hati yang lapang. Sedangkan seorang pengecut justru akan
membunuh dirinya sendiri berulang kali, setiap hari, dengan pedang
khayalan, ramalan, kabar yang tak jelas, dan kasak-kusuk. Jika Anda
menginginkan sebuah kehidupan yang berlandasan kuat, maka hadapilah
semua permasalahan dengan keberanian dan ketabahan. Jangan terlalu
mudah digoyang oleh mereka yang tidak memiliki keyakinan. Jangan merasa
terjepit oleh semua tipu daya mereka. Jadilah orang yang lebih kuat dari
peristiwa itu sendiri, lebih kencang dari angin puyuh, dan lebih kuat dari
angin topan. Sungguh kasihan mereka yang memiliki hati yang lemah, betapa
hari-hari selalu mengguncang dirinya.
{Dan, sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada
kehidupan (di dunia).}
(QS. Al-Baqarah: 96)
Sedangkan orang-orang yang memiliki hati yang kuat akan senantiasa
mendapatkan pertolongan dari Allah dan senantiasa yakin dengan janji-
Nya.
{Lalu, menurunkan ketenangan atas mereka.}
(QS. Al-Fath: 18)

Sbr: buku LA TAHZAN

Sabar Itu Indah ...


Bersabar diri merupakan ciri orang-orang yang menghadapi pelbagai
kesulitan dengan lapang dada, kemauan yang keras, serta ketabahan yang
besar. Karena itu, jika kita tidak bersabar, maka apa yang bisa kita lakukan.7
Apakah Anda memiliki solusi lain selain bersabar? Dan apakab Anda
mengetahui senjata lain yang dapat kita gunakan selain kesabaran?
Konon, seorang pembesar negeri ini memiliki 'ladang gembalaan' dan
'lapangan' yang selalu ditimpa musibah; setiap kali selesai dari satu kesulitan,
kesulitan yang lain selalu datang mengunjunginya. Meski demikian, ternyata
ia tetap berlindung di balik perisai kesabaran dan mengenakan tameng
keyakinan kepada Allah Demikian itulah orang-orang mulia dan terhormat bertarung melawan
setiap kesulitan dan menjatuhkan semua bencana itu terkapar di atas tanah.
Syahdan, ketika menjenguk Abu Bakar yang sedang terbaring sakit,
para sahabat berkata kepadanya, "Bolehkah kami panggilkan seorang tabib
untuk mengobatimu?"
"Seorang tabib telah memeriksaku!," jawab Abu Bakar.
Para sahabat pun bertanya, "Lalu apa yang ia katakan?"
la berkata, "Sesungguhnya aku boleh melakukan apa saja yang aku mau."
Bersabarlah karena Allah! Dan sebaiknya Anda bersabar sebagaimana
kesabaran orang yang yakin akan datangnya kemudahan, mengetahui tempat
kembali yang baik, mengharap pahala, dan senang mengingkari kejahatan.
Seberapa pun besar permasalahan yang Anda hadapi, tetaplah bersabar.
Karena kemenangan itu sesungguhnya akan datang bersama dengan
kesabaran. Jalan keluar datang bersama kesulitan. Dan, dalam setiap
kesulitan itu ada kemudahan.
Saya pernah membaca biografi sejumlah orang terkenal, dan saya
tertegun dengan besarnya kesabaran dan agungnya ketabahan mereka.
Deraan musibah itu mereka anggap sebagai tetesan air dingin yang memercik
di kepala mereka. Mereka tak tergoyahkan laksana gunung, dan menancap
jauh ke dalam kebenaran. Dalam waktu singkat mereka dapat melupakan
semua kesedihan itu dan wajah mereka kembali berbinar menyorotkan cahaya
kemenangan. Bahkan, ada satu di antara mereka yang tidak hanya cukup
bersabar, namun justru menghadang semua bencana itu dan berteriak lantang
di hadapan musibah-musibah itu sambil menyatakan tantangannya.

Sbr: Buku LA TAHZAN

"Katakanlah: 'Berjalanlah di muka bumi!'"


Di antara perkara yang dapat melapangkan dada dan melenyapkan
awan kesedihan dan kesusahan adalah berjalan menjelajah negeri dan
membaca "buku penciptaan" yang terbuka lebar ini untuk menyaksikan
bagaimana pena-pena kekuasaan menuliskan tanda-tanda keindahan di atas
lembaran-lembaran kehidupan. Betapa tidak, karena Anda akan banyak
menyaksikan taman, kebun, sawah dan bukit -bukit hijau yang indah
mempesona.
Keluarlah dari rumah, lalu perhatikan apa yang ada di sekitar Anda,
di depan mata Anda, dan di belakang Anda! Dakilah gunung-gunung,
jamahlah tanah di lembah-lembah, panjatlah batang-batang pepohonan,
reguklah air yang jernih, dan ciumkan hidungmu atas bunga mawar! Pada
saat-saat yang demikian itu, Anda akan menemukan jiwa Anda benar-benar
merdeka dan bebas seperti burung yang berkicau melafalkan tasbih di
angkasa kebahagiaan. Keluarlah dari rumah Anda, tutup kedua mata Anda
dengan kain hitam, kemudian berjalanlah di bumi Allah yang sangat luas
ini dengan senantiasa berdzikir dan bertasbih.
Mengurung diri dalam kamar yang sunyi bersama kekosongan yang
membahayakan merupakan cara ampuh untuk bunuh diri. Kamar Anda
bukanlah alam semesta. Dan Anda biikan manusia satu-satunya di alam ini. Karena itu, mengapa Anda harus menyerahkan diri kepada "pembisikpembisik"
kesusahan dan kesedihan? Tidakkah Anda sebaiknya menyatukan
pandangan, pendengaran dan hati untuk menyeru kepada diri Anda
sendiri,
{Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun berat.}
(QS. At-Taubah: 41)
Marilah sekali-kali kita membaca al-Qur'an di tepi-tepi sungai, di
pinggiran hutan yang rimbun, di antara burung-burung yang sedang berkicau
membaca untaian puisi cinta, atau di depan gemericik aliran air sungai
yang sedang mengisahkan perjalanannya dari dari hulu ke hilir.
Menjelajahi pelosok-pelosok negeri merupakan kegiatan yang sangat
menyenangkan. Bahkan, para dokter sudah banyak merekomendasikan
kepada mereka yang sedang stres menghadapi suatu persoalan dan tertekan
oleh beratnya beban hidup, agar melepaskan semua itu dengan berjalan ke
tempat-tempat indah yang tak pernah ia kunjungi. Karena itu, marilah
sesekali kita berjalan menjelajah pelosok negeri untuk mencari ketenangan,
bergembira, berpikir, dan sekaligus menghayati ciptaan Allah yang sangat
luas ini.
{Dan, mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):
"Ya Rabb kami tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci
Engkau."}
(QS. Ali 'Imran: 191)

Sbr: Buku LA TAHZAN
Bagi teman yang ingin membaca Al-qur'an sila klik disini! dan jika ingin membaca Al-qur'an dan terjemahanya sila klik disini!

Pasang Iklan Gratiiisss

ads ads ads ads ads ads

Sudah siap Memulai Bisnis Internet ?

Bagi anda yang pengen dapat uang saku tambahan silakan coba yang satu ini, anda hanya di minta untuk mengklik iklan lalu anda dibayar.buruan daftar di donkeymails bawah ini DonkeyMails.com: No Minimum Payout

PUISI KU

Untaian Rindu Kurindu padaMu ... Kerinduanku ingin bisa lebih dekat denganMu Kuingin lebih merasakan kebersamaan denganMu Kuingin dihatiku Kau bersemayam Diatas segala-galanya Kapan aku bisa mencintaiMu Lebih dalam ... Dan jauh lebih tulus Aku benar-benar merindukanMu Rinduku yang tak berujung padaMu Rasa rindu yang mendalam Didalam hati Berilah percikan cintaMu didalam hati Hatiku haus akan cintaMu Dan begitu rindu akan diriMu

Ilmu Islam

  1. Ya ALLAH
  2. Pikirkan dan Syukurilah!
  3. Yang Lalu Biar Berlalu
  4. Hari Ini Milik Anda
  5. Biarkan Masa Depan Datang Sendiri
  6. Cara Mudah Menghadapi Kritikan Pedas
  7. Jangan Mengharap "Terima Kasih" dari Seseorang
  8. Berbuat Baik Terhadap Orang Lain, Melapangkan Dada...
  9. Isi Waktu Luang Dengan Berbuat!
  10. Jangan Latah!
  11. Qadha' dan Qadar
  12. Bersama Kesulitan Ada Kemudahan
  13. Jadikan Buah Lemon Itu Minuman yang Manis!
  14. Siapakah yang Memperkenankan Doa Orang yang Kesuli...
  15. Semoga Rumahmu Membuat Bahagia
  16. Ganti Itu dari Allah
  17. Iman Adalah Kehidupan
  18. Ambil Madunya, Tapi Jangan Hancurkan Sarangnya!
  19. "Dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang."
  20. "Ataukah mereka dengki pada manusia atas apa yang ...
  21. Hadapi Hidup Ini Apa Adanya!
  22. Yakinilah Bahwa Anda Tetap Mulia Bersama Para Pene...
  23. Shalat.... Shalat....
  24. "Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah ad...
  25. "Katakanlah: 'Berjalanlah di muka bumi!'"
  26. Sabar Itu Indah ...
  27. Jangan Meletakkan Bola Dunia di Atas Kepala!
  28. Jangan Sampai Hal-hal yang Sepele Membinasakan And...
  29. Terimalah Setiap Pemberian Allah dengan Rela Hati,...
  30. Selalu Ingatlah Pada Surga yang Seluas Langit dan ...
  31. "Demikianlah, Telah Kami Jadikan Kamu Umat Yang Ad...
  32. 32. Bersedih: Tak Diajarkan Syariat dan Tak Bermanfaat...
  33. Rehat
  34. Tersenyumlah!
  35. Rehat 2
  36. Nikmatnya Rasa Sakit
  37. Nikmatnya Rasa Sakit
  38. Seni Bergembira
  39. Rehat 3
  40. Mengendalikan Emosi
  41. Kebahagiaan Para Sahabat Bersama Rasulullah s.a.w....
  42. Enyahkan Kejenuhan dari Hidupmu!
  43. Buanglah Rasa Cemas!
  44. Rehat 4
  45. Jangan Bersedih, Karena Rabb Maha Pengampun Dosa d...
  46. Jangan Bersedih, Semua Hal Akan Terjadi Sesuai Qad...
  47. Jangan Bersedih, Tunggulah Jalan Keluar!
  48. Rehat 5
  49. Jangan Bersedih, Perbanyaklah Istighfar Karena All...
  50. Jangan Bersedih, Ingatlah Allah Selalu!
  51. Jangan Bersedih dan Putus Asa dari Rahmat Allah!
  52. Jangan Bersedih Atas Kegagalan, Karena Anda Masih ...
  53. Jangan Bersedih Atas Sesuatu yang Tak Pantas Anda ...
  54. Jangan Bersedih, Usirlah Setiap Kegalauan!
  55. Jangan Bersedih Bila Kebaikan Anda Tak Dihargai Or...
  56. Jangan Bersedih Atas Cercaan dan Hinaan Orang!
  57. Jangan Bersedih Atas Sesuatu yang Sedikit, Sebab P...
  58. Jangan Bersedih Atas Apa yang Masih Mungkin Akan T...
  59. Jangan Bersedih Menghadapi Kritikan dan Hinaan! Se...
  60. Rehat 6
  61. Jangan Bersedih! Pilihlah Apa yang Telah Dipilih A...
  62. Jangan Bersedih dan Mempedulikan Perilaku Orang
  63. Jangan Bersedih dan Pahamilah Harga yang Anda Sedi...
  64. Jangan Bersedih Selama Anda Masih Dapat Berbuat Ba...
  65. Jangan Bersedih Jika Mendengar Kata-kata Kasar, Ka...
  66. Rehat 7
  67. Jangan Bersedih! Sebab Bersabar Atas Sesuatu yang ...
  68. Jangan Bersedih Karena Perlakuan Orang Lain, Tapi ...
  69. Jangan Bersedih Karena Rezeki yang Sulit
  70. Jangan Bersedih, Karena Masih Ada Sebab-sebab yang...
  71. Jangan Memakai Baju Kepribadian Orang Lain
  72. 'Uzlah dan Dampak Positifnya
  73. Jangan Bersedih Karena Tertimpa Kesulitan!
  74. Rehat 8
  75. Jangan Bersedih, Inilah Kiat-Kiat untuk Bahagia
  76. Ulasan AL QURAN 1
  77. Ulasan AL QURAN 2
  78. Ulasan Mengenai TUHAN 1
  79. Ulasan Mengenai TUHAN 2
  80. Ulasan Mengenai TUHAN 3
  81. Ulasan Mengenai TUHAN 4
  82. Tentang Nabi MUHAMMAD S.A.W
  83. Tentang Nabi MUHAMMAD S.A.W - bagian 2
  84. Tentang Nabi MUHAMMAD S.A.W - bagian 3
  85. TAKDIR
  86. TAKDIR - bagian 2
  87. 87. TAKDIR - bagian 3
  88. KEMATIAN
  89. KEMATIAN - bagian 2
  90. Hari AKHIRAT
  91. Hari AKHIRAT - bagian 2
  92. Hari AKHIRAT - bagian 3
  93. Hari AKHIRAT - bagian 4
  94. Keadilan dan Kesejahteraan
  95. Keadilan dan Kesejahteraan - bagian 2
  96. Keadilan dan Kesejahteraan - bagian 3
  97. Makanan
  98. Ahklak bagian 2
  99. Ahklak bagian 3
  100. PAKAIAN
  101. PAKAIAN bagian 2
  102. PAKAIAN bagian 3
  103. PAKAIAN bagian 4
  104. Akhlak
  105. KESEHATAN
  106. KESEHATAN bagian 2
  107. PERNIKAHAN
  108. PERNIKAHAN bagian 2
  109. PERNIKAHAN bagian 3
  110. SYUKUR
  111. SYUKUR bagian 2
  112. SYUKUR bagian 3
  113. HALAL BIHALAL
  114. HALAL BIHALAL bagian 2
  115. MANUSIA
  116. MANUSIA bagian 2
  117. MANUSIA bagian 3
  118. PEREMPUAN
  119. PEREMPUAN bagian 2
  120. PEREMPUAN bagian 3
  121. PEREMPUAN bagian 4
  122. Masyarakat
  123. UMMAT
  124. KEBANGSAAN
  125. KEBANGSAAN bagian 2
  126. KEBANGSAAN bagian 3
  127. AHL AL KITAB
  128. AHL AL KITAB bagian 2
  129. AHL AL KITAB bagian 3
  130. AHL AL KITAB bagian 4
  131. AGAMA
  132. SENI
  133. SENI bagian 2
  134. EKONOMI
  135. EKONOMI bagian 2
  136. POLITIK
  137. POLITIK
  138. POLITIK bagian 2
  139. ILMU dan TEKNOLOGI
  140. ILMU dan TEKNOLOGI bagian 2
  141. KEMISKINAN
  142. MASJID
  143. MUSYAWARAH
  144. MUSYAWARAH bagian 2
  145. Ukhuwah
  146. Ukhuwah bagian 2
  147. JIHAD
  148. JIHAD bagian 2
  149. P U A S A
  150. P U A S A bagian 2
  151. LAILATUL QADAR
  152. W A K T U
  153. W A K T U bagian 2
  154. Nasihat untuk Menikah Menurut Islam
  155. Di Jalan Dakwah Aku Menikah
  156. Ringkasan buku : Aku Ingin Menikah, Tapi ... ::..
  157. ALASAN TEPAT UNTUK MENIKAH
  158. Keotentikan Al-Quran
  159. Bukti-bukti Kesejarahan Al - qur'an
  160. Penulisan Mushhaf Al-Qur'an
  161. Bukti Kebenaran Al-Quran bagian 1
  162. Bukti Kebenaran Al-Quran bagian 2
  163. Sejarah Turunnya dan Tujuan Pokok Al-Quran
  164. Periode Turunnya Al-Quran bagian 1
  165. Periode Turunnya Al-Quran bagian 2
  166. Periode Turunnya Al-Quran bagian 3
  167. Dakwah menurut Al-Quran
  168. Tujuan Pokok Al-Quran
  169. Kebenaran Ilmiah Al-Quran
  170. Sistem Penalaran menurut Al-Quran
  171. Ciri Khas Ilmu Pengetahuan
  172. Perkembangan Tafsir
  173. Hikmah Ayat Ilmiah Al-Quran
  174. Mengapa Tafsir Ilmiah Meluas? bagian 1
  175. Mengapa Tafsir Ilmiah Meluas? bagian 2
  176. Bagaimana Memahami Al-Quran di Masa Kini? bagian 1...
  177. Bagaimana Memahami Al-Quran di Masa Kini? bagian 2...
  178. Al-Quran, Ilmu, dan Filsafat Manusia
  179. Al-Quran di Tengah Perkembangan Ilmu
  180. Al-Quran di Tengah Perkembangan Ilmu bagian 2
  181. Al-Quran di Tengah Perkembangan Filsafat
  182. Al-Quran di Tengah Perkembangan Filsafat bagian 2
  183. Sejarah Perkembangan Tafsir
  184. Kodifikasi Tafsir
  185. Metode Tafsir
  186. Kebebasan dan Pembatasan dalam Tafsir
  187. Kebebasan dalam Menafsirkan Al-Quran
  188. Pembatasan dalam Menafsirkan Al-Quran bagian 1
  189. Pembatasan dalam Menafsirkan Al-Quran bagian 2
  190. Perubahan Sosial
  191. Perkembangan Ilmu Pengetahuan
  192. Bidang Bahasa
  193. Haramnya durhaka kepada kedua orang tua
  194. Syirik Kecil bagian 1
  195. Syirik Kecil bagian 2
  196. HUKUM MERAYAKAN HARI VALENTINE bagia 1
  197. HUKUM MERAYAKAN HARI VALENTINE bagia 2
  198. Hukum Mengenakan Pakaian Yang Bergambar Dan Menyim...
  199. Perkembangan Metodologi Tafsir
  200. Perkembangan Metodologi Tafsir 2
  201. Perkembangan Metodologi Tafsir 3
  202. Tafsir dan Modernisasi
  203. Tafsir dan Modernisasi 2
  204. Penafsiran Ilmiah Al-Quran
  205. Penafsiran Ilmiah Al-Quran 2
  206. Penafsiran Ilmiah Al-Quran 3
  207. Penafsiran Ilmiah Al-Quran 4
  208. Metode Tafsir Tematik
  209. Beberapa Problem Tafsir
  210. Metode Mawdhu'iy
  211. Keistimewaan Metode Mawdhu'iy
  212. Perbedaan Metode Mawdhu'iy dengan Metode Analisis
  213. Perbedaan Metode Mawdhu'iy dengan Metode Komparasi...
  214. Hubungan Hadis dan Al-Quran
  215. Fungsi Hadis terhadap Al-Quran
  216. Pemahaman atas Makna Hadis
  217. Fungsi dan Posisi Sunah Dalam Tafsir bgn 1
  218. Fungsi dan Posisi Sunah Dalam Tafsir bgn 2
  219. Ayat-ayat Kawniyyah dalam Al-Quran
  220. Al-Qur'an dan Alam Raya
  221. Pendapat Para Ulama tentang Penafsiran Ilmiah
  222. Segi Bahasa Al-Quran dan Korelasi Antar Ayatnya
Diberdayakan oleh Blogger.

Followers