Pages

Minggu, 01 November 2009

UMMAT

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata "umat" diartikan
sebagai:

(1) para penganut atau pengikut suatu agama

(2) makhluk manusia

Dalam beberapa ensiklopedi, kata tersebut diartikan dengan
berbagai arti. Ada yang memahaminya sebagai bangsa seperti
keterangan Ensiklopedi Filsafat yang ditulis oleh sejumlah
Akademisi Rusia, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh
Samir Karam, Beirut 1974 M; ada juga yang mengartikannya
negara seperti dalam Al-Mu'jam Al-Falsafi, yang disusun oleh
Majma' Al-Lughah Al-'Arabiyah (Pusat Bahasa Arab), Kairo 1979

Pengertian-pengertian seperti yang telah diungkapkan di atas
dapat mengakibatkan kerancuan pemahaman terhadap konsep ummat
yang ada dalam Al-Quran. Bahkan, bisa jadi, akan menimbulkan
kesalahpahaman di kalangan umat Islam sendiri.

Kata ummat terambil dari kata [tulisan arab] (amma-yaummu)
Yang berarti menuju, menumpu, dan meneladani. Dari akar yang
sama, lahir antara lain kata um yang berarti "ibu" dan imam
yang maknanya "pemimpin"; karena keduanya menjadi teladan,
tumpuan pandangan, dan harapan anggota masyarakat.

Pakar-pakar bahasa berbeda pendapat tentang jumlah anggota
satu umat. Ada yang merujuk ke riwayat yang dinisbahkan kepada
Nabi Saw. bahwa beliau bersabda,

Tidak seorang mayat pun yang dishalatkan oleh umat
dari kaum Muslim sebanyak seratus orang, dan
memohonkan kepada Allah agar diampuni, kecuali
diampuni oleh-Nya (HR An-Nasa'i).

Ada juga yang mengatakan bahwa, angka empat puluh sudah bisa
disebut umat. Pakar hadis An-Nasa'i yang meriwayatkan hadis
serupa menyatakan bahwa Abu Al-Malih ditanyai tentang jumlah
orang yang shalat itu, dan menjawab, "Empat puluh orang."

Kalau kita merujuk kepada Al-Quran, agaknya penjelasan
Ar-Raghib dapat dipertanggungjawabkan.

Pakar bahasa Al-Quran itu (w. 508 H/1108 M) dalam bukunya
Al-Mufradat fi Gharib Al-Qur'an, menjelaskan bahwa kata ini
didefinisikan sebagai semua kelompok yang dihimpun oleh
sesuatu, seperti agama, waktu, atau tempat yang sama, baik
penghimpunannya secara terpaksa maupun atas kehendak mereka.

Secara tegas Al-Quran dan hadis tidak membatasi pengertian
umat hanya pada kelompok manusia.

Dan tidaklah binatang-binatang yang ada di bumi, dan
burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya
kecuali umat-umat juga seperti kamu (QS Al-An'am [6]:
38).

Rasulullah Saw. bersabda:

Semut (juqa) merupakan umat dan umat-umat (Tuhan) (HR.
Muslim).

Seandainya anjing-anjing bukan umat dan umat-umat
(Tuhan) niscaya saya perintahkan untuk dibunuh (HR
At-Tirmidzi dan An-Nasa'i).

Ikatan persamaan apa pun yang menyatukan makhluk hidup manusia
--atau binatang-- seperti jenis, suku, bangsa, ideologi, atau
agama, dan sebagainya, maka ikatan itu telah menjadikan mereka
satu umat. Bahkan Nabi Ibrahim a.s. --sendirian-- yang
menyatukan sekian banyak sifat terpuji dalam dirinya, disebut
oleh Al-Quran sebagai "umat" (QS Al- Nahl [16]: 120), dari
sini beliau kemudian menjadi imam, yakni pemimpin yang
diteladani.

Kata umat tidak hanya digunakan untuk manusia-manusia yang
taat beragama, karena dalam sebuah hadis dinyatakan bahwa
Rasul Saw. bersabda,

"Semua umatku masuk surga, kecuali yang enggan."
Beliau ditanyai, "Siapa yang enggan itu?" Dõjawabnya,
"Siapa yang taat kepadaku dia akan masuk surga, dan
yang durhaka maka ia telah enggan" (HR Bukhari melalui
Abu Hurairah).

Al-Quran surat Al-Ra'd ayat 30 menggunakan kata ummat untuk
menunjuk orang-orang yang enggan menjadi pengikut para Nabi.
Begitu kesimpulan Ad-Damighani (abad ke-ll H) dalam Kamus
Al-Quran yang disusunnya.

Kata ummat dalam bentuk tunggal terulang lima puluh dua kali
dalam Al-Quran. Ad-Damighani menyebutkan sembilan arti untuk
kata itu, yaitu, kelompok, agama (tauhid), waktu yang panjang,
kaum, pemimpin, generasi lalu, umat Islam, orang-orang kafir,
dan manusia seluruhnya.

Benang merah yang menggabungkan makna-makna di atas adalah
"himpunan".

Sungguh indah, luwes, dan lentur kata ini, sehingga dapat
mencakup aneka makna, dan dengan demikian dapat menampung
--dalam kebersamaannya-- aneka perbedaan.

Al-Quran memilih kata ini untuk menunjukkan antara lain
"himpunan pengikut Nabi Muhammad Saw. (umat Islam)", sebagai
isyarat bahwa ummat dapat menampung perbedaan
kelompok-kelompok, betapapun kecil jumlah mereka, selama masih
pada arah yang sama, yaitu Allah Swt.

Sesungguhnya umatmu ini (agama tauhid) adalah umat
(agama) yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka
sembahlah Aku (QS Al-Anbiya' [21]: 92).

Dalam kata "umat" terselip makna-makna yang cukup dalam. Umat
mengandung arti gerak dinamis, arah, waktu, jalan yang jelas,
serta gaya dan cara hidup. Untuk menuju pada satu arah, harus
jelas jalannya, serta harus bergerak maju dengan gaya dan cara
tertentu, dan pada saat yang sama membutuhkan waktu untuk
mencapainya. Al-Quran surat Yusuf (12): 45 menggunakan kata
umat untuk arti waktu. Sedangkan surat Al-Zukhruf (43): 22
untuk arti jalan, atau gaya dan cara hidup,

Ali Syariati dalam bukunya Al-Ummah wa Al-Imamah menyebutkan
keistimewaan kata ini dibandingkan kata semacam nation atau
qabilah (suku). Pakar ini mendefinisikan kata umat --dalam
konteks sosiologis-- sebagai "himpunan manusiawi yang seluruh
anggotanya bersama-sama menuju satu arah, bahu membahu, dan
bergerak secara dinamis di bawah kepemimpinan bersama."

Umat Islam disebut oleh Al-Quran surat Al-Baqarah {2): 143
sebagai ummat(an) wasatha.

Demikianlah itu Kami menjadikan kamu ummatan wasatha
agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia, dan
agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan)
kamu.

Mulanya, kata wasath berarti segala yang baik sesuai dengan
obyeknya. Sesuatu yang baik berada pada posisi di antara dua
ekstrem. Keberanian adalah pertengahan sifat ceroboh dan
takut. Kedermawanan merupakan pertengahan antara sikap boros
dan kikir. Kesucian merupakan pertengahan antara kedurhakaan
karena dorongan nafsu yang menggebu dan impotensi. Dari sini,
kata wasath berkembang maknanya menjad tengah.

Yang menghadapi dua pihak berseteru dituntut untuk menjadi
wasath (wasit) dan berada pada posisi tengah agar berlaku
adil. Dari sini, lahirlah makna ketiga wasath, yaitu adil.

Ummatan wasatha adalah umat moderat, yang posisinya berada di
tengah, agar dilihat oleh semua pihak, dan dari segenap
penjuru.

Mereka dijadikan demikian --menurut lanjutan ayat di atas--
agar mereka menjadi syuhada (saksi), sekaligus menjadi teladan
dan patron bagi yang lain, dan pada saat yang sama mereka
menjadikan Nabi Muhammad Saw. sebagai patron teladan dan saksi
pembenaran bagi semua aktivitasnya.

Keberadaan umat Islam dalam posisi tengah menyebabkan mereka
tidak seperti umat yang hanyut oleh materialisme, tidak pula
mengantarnya membumbung tinggi ke alam ruhani, sehingga tidak
lagi berpijak di bumi. Posisi tengah menjadikan mereka mampu
memadukan aspek ruhani dan jasmani, material, dan spiritual
dalam segala sikap dan aktivitas.

Wasathiyat (moderasi atau posisi tengah) mengundang umat Islam
untuk berinteraksi, berdialog, dan terbuka dengan semua pihak
(agama, budaya, dan peradaban), karena mereka tidak dapat
menjadi saksi maupun berlaku adil jika mereka tertutup atau
menutup diri dari lingkungan dan perkembangan global.[]

----------------
WAWASAN AL-QURAN
Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat
Dr. M. Quraish Shihab, M.A.

0 vxcfgdsdhghgwegf yfteift:

Bagi teman yang ingin membaca Al-qur'an sila klik disini! dan jika ingin membaca Al-qur'an dan terjemahanya sila klik disini!

Pasang Iklan Gratiiisss

ads ads ads ads ads ads

Sudah siap Memulai Bisnis Internet ?

Bagi anda yang pengen dapat uang saku tambahan silakan coba yang satu ini, anda hanya di minta untuk mengklik iklan lalu anda dibayar.buruan daftar di donkeymails bawah ini DonkeyMails.com: No Minimum Payout

PUISI KU

Untaian Rindu Kurindu padaMu ... Kerinduanku ingin bisa lebih dekat denganMu Kuingin lebih merasakan kebersamaan denganMu Kuingin dihatiku Kau bersemayam Diatas segala-galanya Kapan aku bisa mencintaiMu Lebih dalam ... Dan jauh lebih tulus Aku benar-benar merindukanMu Rinduku yang tak berujung padaMu Rasa rindu yang mendalam Didalam hati Berilah percikan cintaMu didalam hati Hatiku haus akan cintaMu Dan begitu rindu akan diriMu

Ilmu Islam

  1. Ya ALLAH
  2. Pikirkan dan Syukurilah!
  3. Yang Lalu Biar Berlalu
  4. Hari Ini Milik Anda
  5. Biarkan Masa Depan Datang Sendiri
  6. Cara Mudah Menghadapi Kritikan Pedas
  7. Jangan Mengharap "Terima Kasih" dari Seseorang
  8. Berbuat Baik Terhadap Orang Lain, Melapangkan Dada...
  9. Isi Waktu Luang Dengan Berbuat!
  10. Jangan Latah!
  11. Qadha' dan Qadar
  12. Bersama Kesulitan Ada Kemudahan
  13. Jadikan Buah Lemon Itu Minuman yang Manis!
  14. Siapakah yang Memperkenankan Doa Orang yang Kesuli...
  15. Semoga Rumahmu Membuat Bahagia
  16. Ganti Itu dari Allah
  17. Iman Adalah Kehidupan
  18. Ambil Madunya, Tapi Jangan Hancurkan Sarangnya!
  19. "Dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang."
  20. "Ataukah mereka dengki pada manusia atas apa yang ...
  21. Hadapi Hidup Ini Apa Adanya!
  22. Yakinilah Bahwa Anda Tetap Mulia Bersama Para Pene...
  23. Shalat.... Shalat....
  24. "Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah ad...
  25. "Katakanlah: 'Berjalanlah di muka bumi!'"
  26. Sabar Itu Indah ...
  27. Jangan Meletakkan Bola Dunia di Atas Kepala!
  28. Jangan Sampai Hal-hal yang Sepele Membinasakan And...
  29. Terimalah Setiap Pemberian Allah dengan Rela Hati,...
  30. Selalu Ingatlah Pada Surga yang Seluas Langit dan ...
  31. "Demikianlah, Telah Kami Jadikan Kamu Umat Yang Ad...
  32. 32. Bersedih: Tak Diajarkan Syariat dan Tak Bermanfaat...
  33. Rehat
  34. Tersenyumlah!
  35. Rehat 2
  36. Nikmatnya Rasa Sakit
  37. Nikmatnya Rasa Sakit
  38. Seni Bergembira
  39. Rehat 3
  40. Mengendalikan Emosi
  41. Kebahagiaan Para Sahabat Bersama Rasulullah s.a.w....
  42. Enyahkan Kejenuhan dari Hidupmu!
  43. Buanglah Rasa Cemas!
  44. Rehat 4
  45. Jangan Bersedih, Karena Rabb Maha Pengampun Dosa d...
  46. Jangan Bersedih, Semua Hal Akan Terjadi Sesuai Qad...
  47. Jangan Bersedih, Tunggulah Jalan Keluar!
  48. Rehat 5
  49. Jangan Bersedih, Perbanyaklah Istighfar Karena All...
  50. Jangan Bersedih, Ingatlah Allah Selalu!
  51. Jangan Bersedih dan Putus Asa dari Rahmat Allah!
  52. Jangan Bersedih Atas Kegagalan, Karena Anda Masih ...
  53. Jangan Bersedih Atas Sesuatu yang Tak Pantas Anda ...
  54. Jangan Bersedih, Usirlah Setiap Kegalauan!
  55. Jangan Bersedih Bila Kebaikan Anda Tak Dihargai Or...
  56. Jangan Bersedih Atas Cercaan dan Hinaan Orang!
  57. Jangan Bersedih Atas Sesuatu yang Sedikit, Sebab P...
  58. Jangan Bersedih Atas Apa yang Masih Mungkin Akan T...
  59. Jangan Bersedih Menghadapi Kritikan dan Hinaan! Se...
  60. Rehat 6
  61. Jangan Bersedih! Pilihlah Apa yang Telah Dipilih A...
  62. Jangan Bersedih dan Mempedulikan Perilaku Orang
  63. Jangan Bersedih dan Pahamilah Harga yang Anda Sedi...
  64. Jangan Bersedih Selama Anda Masih Dapat Berbuat Ba...
  65. Jangan Bersedih Jika Mendengar Kata-kata Kasar, Ka...
  66. Rehat 7
  67. Jangan Bersedih! Sebab Bersabar Atas Sesuatu yang ...
  68. Jangan Bersedih Karena Perlakuan Orang Lain, Tapi ...
  69. Jangan Bersedih Karena Rezeki yang Sulit
  70. Jangan Bersedih, Karena Masih Ada Sebab-sebab yang...
  71. Jangan Memakai Baju Kepribadian Orang Lain
  72. 'Uzlah dan Dampak Positifnya
  73. Jangan Bersedih Karena Tertimpa Kesulitan!
  74. Rehat 8
  75. Jangan Bersedih, Inilah Kiat-Kiat untuk Bahagia
  76. Ulasan AL QURAN 1
  77. Ulasan AL QURAN 2
  78. Ulasan Mengenai TUHAN 1
  79. Ulasan Mengenai TUHAN 2
  80. Ulasan Mengenai TUHAN 3
  81. Ulasan Mengenai TUHAN 4
  82. Tentang Nabi MUHAMMAD S.A.W
  83. Tentang Nabi MUHAMMAD S.A.W - bagian 2
  84. Tentang Nabi MUHAMMAD S.A.W - bagian 3
  85. TAKDIR
  86. TAKDIR - bagian 2
  87. 87. TAKDIR - bagian 3
  88. KEMATIAN
  89. KEMATIAN - bagian 2
  90. Hari AKHIRAT
  91. Hari AKHIRAT - bagian 2
  92. Hari AKHIRAT - bagian 3
  93. Hari AKHIRAT - bagian 4
  94. Keadilan dan Kesejahteraan
  95. Keadilan dan Kesejahteraan - bagian 2
  96. Keadilan dan Kesejahteraan - bagian 3
  97. Makanan
  98. Ahklak bagian 2
  99. Ahklak bagian 3
  100. PAKAIAN
  101. PAKAIAN bagian 2
  102. PAKAIAN bagian 3
  103. PAKAIAN bagian 4
  104. Akhlak
  105. KESEHATAN
  106. KESEHATAN bagian 2
  107. PERNIKAHAN
  108. PERNIKAHAN bagian 2
  109. PERNIKAHAN bagian 3
  110. SYUKUR
  111. SYUKUR bagian 2
  112. SYUKUR bagian 3
  113. HALAL BIHALAL
  114. HALAL BIHALAL bagian 2
  115. MANUSIA
  116. MANUSIA bagian 2
  117. MANUSIA bagian 3
  118. PEREMPUAN
  119. PEREMPUAN bagian 2
  120. PEREMPUAN bagian 3
  121. PEREMPUAN bagian 4
  122. Masyarakat
  123. UMMAT
  124. KEBANGSAAN
  125. KEBANGSAAN bagian 2
  126. KEBANGSAAN bagian 3
  127. AHL AL KITAB
  128. AHL AL KITAB bagian 2
  129. AHL AL KITAB bagian 3
  130. AHL AL KITAB bagian 4
  131. AGAMA
  132. SENI
  133. SENI bagian 2
  134. EKONOMI
  135. EKONOMI bagian 2
  136. POLITIK
  137. POLITIK
  138. POLITIK bagian 2
  139. ILMU dan TEKNOLOGI
  140. ILMU dan TEKNOLOGI bagian 2
  141. KEMISKINAN
  142. MASJID
  143. MUSYAWARAH
  144. MUSYAWARAH bagian 2
  145. Ukhuwah
  146. Ukhuwah bagian 2
  147. JIHAD
  148. JIHAD bagian 2
  149. P U A S A
  150. P U A S A bagian 2
  151. LAILATUL QADAR
  152. W A K T U
  153. W A K T U bagian 2
  154. Nasihat untuk Menikah Menurut Islam
  155. Di Jalan Dakwah Aku Menikah
  156. Ringkasan buku : Aku Ingin Menikah, Tapi ... ::..
  157. ALASAN TEPAT UNTUK MENIKAH
  158. Keotentikan Al-Quran
  159. Bukti-bukti Kesejarahan Al - qur'an
  160. Penulisan Mushhaf Al-Qur'an
  161. Bukti Kebenaran Al-Quran bagian 1
  162. Bukti Kebenaran Al-Quran bagian 2
  163. Sejarah Turunnya dan Tujuan Pokok Al-Quran
  164. Periode Turunnya Al-Quran bagian 1
  165. Periode Turunnya Al-Quran bagian 2
  166. Periode Turunnya Al-Quran bagian 3
  167. Dakwah menurut Al-Quran
  168. Tujuan Pokok Al-Quran
  169. Kebenaran Ilmiah Al-Quran
  170. Sistem Penalaran menurut Al-Quran
  171. Ciri Khas Ilmu Pengetahuan
  172. Perkembangan Tafsir
  173. Hikmah Ayat Ilmiah Al-Quran
  174. Mengapa Tafsir Ilmiah Meluas? bagian 1
  175. Mengapa Tafsir Ilmiah Meluas? bagian 2
  176. Bagaimana Memahami Al-Quran di Masa Kini? bagian 1...
  177. Bagaimana Memahami Al-Quran di Masa Kini? bagian 2...
  178. Al-Quran, Ilmu, dan Filsafat Manusia
  179. Al-Quran di Tengah Perkembangan Ilmu
  180. Al-Quran di Tengah Perkembangan Ilmu bagian 2
  181. Al-Quran di Tengah Perkembangan Filsafat
  182. Al-Quran di Tengah Perkembangan Filsafat bagian 2
  183. Sejarah Perkembangan Tafsir
  184. Kodifikasi Tafsir
  185. Metode Tafsir
  186. Kebebasan dan Pembatasan dalam Tafsir
  187. Kebebasan dalam Menafsirkan Al-Quran
  188. Pembatasan dalam Menafsirkan Al-Quran bagian 1
  189. Pembatasan dalam Menafsirkan Al-Quran bagian 2
  190. Perubahan Sosial
  191. Perkembangan Ilmu Pengetahuan
  192. Bidang Bahasa
  193. Haramnya durhaka kepada kedua orang tua
  194. Syirik Kecil bagian 1
  195. Syirik Kecil bagian 2
  196. HUKUM MERAYAKAN HARI VALENTINE bagia 1
  197. HUKUM MERAYAKAN HARI VALENTINE bagia 2
  198. Hukum Mengenakan Pakaian Yang Bergambar Dan Menyim...
  199. Perkembangan Metodologi Tafsir
  200. Perkembangan Metodologi Tafsir 2
  201. Perkembangan Metodologi Tafsir 3
  202. Tafsir dan Modernisasi
  203. Tafsir dan Modernisasi 2
  204. Penafsiran Ilmiah Al-Quran
  205. Penafsiran Ilmiah Al-Quran 2
  206. Penafsiran Ilmiah Al-Quran 3
  207. Penafsiran Ilmiah Al-Quran 4
  208. Metode Tafsir Tematik
  209. Beberapa Problem Tafsir
  210. Metode Mawdhu'iy
  211. Keistimewaan Metode Mawdhu'iy
  212. Perbedaan Metode Mawdhu'iy dengan Metode Analisis
  213. Perbedaan Metode Mawdhu'iy dengan Metode Komparasi...
  214. Hubungan Hadis dan Al-Quran
  215. Fungsi Hadis terhadap Al-Quran
  216. Pemahaman atas Makna Hadis
  217. Fungsi dan Posisi Sunah Dalam Tafsir bgn 1
  218. Fungsi dan Posisi Sunah Dalam Tafsir bgn 2
  219. Ayat-ayat Kawniyyah dalam Al-Quran
  220. Al-Qur'an dan Alam Raya
  221. Pendapat Para Ulama tentang Penafsiran Ilmiah
  222. Segi Bahasa Al-Quran dan Korelasi Antar Ayatnya
Diberdayakan oleh Blogger.

Followers