Pages

Minggu, 01 November 2009

EKONOMI

Masalah-masalah pokok ekonomi menurut para pakar mencakup
antara 1ain:

a. Jenis dan jasa yang diproduksi serta sistemnya.
b. Sistem distribusi (untuk siapa barang jasa itu).
c. Efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi.
d. Inflasi, resesi, dan depresi.
e. Dan lain-lain.

Melihat luasnya ruang lingkup ekonomi, maka boleh jadi kita
dapat menyederhanakan kajian tulisan ini, dengan mengambil
alih pandangan sekian pakar yang mendefinisikan ilmu ekonomi
sebagai "ilmu mengenai perilaku manusia yang berhubungan
dengan kegiatan mendapatkan uang dan membelanjakannya".

Pendorong bagi kegiatan itu adalah kebutuhan dan keinginan
manusia yang tidak mungkin diperoleh secara mandiri. Untuk
memenuhinya manusia terpaksa melakukan kerja sama, dan sering
kali juga terpaksa harus mengorbankan sebagian keinginannya,
atau mengantarnya menetapkan prioritas dalam melakukan
pilihan.

Namun ada juga manusia yang sukar mengendalikan keinginannya,
sehingga ia terdorong untuk menganiaya, baik terhadap sesama
manusia maupun makhluk lain. Dari sini amat diperlukan
peraturan serta etika yang mengatur kegiatan ekonomi.

Peraturan dan etika itulah yang membedakan antara ekonomi yang
dianjurkan Al-Quran dengan ekonomi lainnya.

Harus diakui bahwa Al-Quran tidak menyajikan rincian, tetapi
hanya mengamanatkan nilai-nilai (prinsip-prinsip)-nya saja.
Sunnah Nabi dan analisis para ulama dan cendekiawan
mengemukakan sebagian dari rincian dalam rangka
operasionalisasinya.

UANG DALAM PANDANGAN AL-QURAN

Terlebih dahulu perlu dijelaskan pandangan Al-Quran tentang
harta (uang) dan pengembangannya dalam kegiatan ekonomi.

"Uang" antara lain diartikan sebagai "harta" kekayaan, dan
"nilai tukar bagi sesuatu".

Berbeda dengan dugaan sementara orang yang beranggapan bahwa
Islam kurang menyambut baik kehadiran uang, pada hakikatnya
pandangan Islam terhadap uang dan harta amat positif. Manusia
diperintahkan Allah untuk mencari rezeki bukan hanya yang
mencukupi kebutuhannya, tetapi Al-Quran memerintahkan untuk
mencari apa yang diistilahkannya fadhl Allah, yang secara
harfiah berarti "kelebihan yang bersumber dari Allah". Salah
satu ayat yang menunjuk ini adalah:

Apabila kamu telah selesai shalat (Jumat) maka
bertebaranlah di bumi, dan carilah fadhl
(kelebihan/rezeki) Allah (QS A1-Jumu'ah [62]: 10).

Kelebihan tersebut dimaksudkan antara lain agar yang
memperoleh dapat melakukan ibadah secara sempurna serta
mengulurkan tangan bantuan kepada pihak lain yang oleh karena
satu dan lain sebab tidak berkecukupan.

Harta atau uang dinilai oleh Allah Swt. sebagai "qiyaman",
yaitu "sarana pokok kehidupan" (QS Al-Nisa' [4): 5). Tidak
heran jika Islam memerintahkan untuk menggunakan uang pada
tempatnya dan secara baik, serta tidak memboroskannya. Bahkan
memerintahkan untuk menjaga dan memeliharanya sampai-sampai
Al-Quran melarang pemberian harta kepada pemiliknya sekalipun,
apabila sang pemilik dinilai boros, atau tidak pandai mengurus
hartanya secara baik. Dalam konteks ini, A1-Quran berpesan
kepada mereka yang diberi amanat memelihara harta seseorang:

Janganlah kamu memberi orang-orang yang lemah kemampuan
(dalam pengurusan harta) harta (mereka yang ada di
tangan kamu dan yang dijadikan Allah untuk semua
sebagai sarana pokok kehidupan) (QS Al-Nisa' [4]: 5).

Bukan hanya itu, Al-Quran memerintahkan siapa pun yang
melakukan transaksi hutang piutang, agar mencatat jumlah
hutang piutang itu, jangan sampai oleh satu dan lain hal
tercecer hilang atau berkurang.

Jangan bosan (enggan) menulisnya sedikit atau banyak
sampai batas waktu pembayarannya (QS Al-Baqarah [2]:
282).

Bahkan kalau perlu meminta bantuan notaris dalam
pencatatannya.

Kepada notaris serta yang melakukan transaksi itu, Allah
berpesan pada lanjutan ayat di atas:

[tulisan Arab]

dalam arti, hendaknya notaris jangan merugikan orang yang
melakukan transaksi terutama dengan mengurangi haknya
masing-masing, dan bagi yang melakukan transaksi hendaknya
jangan juga merugikan sang notaris dalam waktu, tenaga, dan
pikirannya tanpa memberi imbalan yang wajar. Diperintahkan
juga agar memilih saksi-saksi dalam hal hutang-piutang, kalau
bukan dua orang lelaki, maka seorang lelaki dan dua orang
perempuan:

Agar kalau seseorang tersesat/lupa, maka yang satu
lainnya akan mengingatkannya (QS Al-Baqarah [2]: 282).

Demikian antara lain kandungan pesan ayat yang terpanjang
dalam Al-Quran.

Pandangan Al-Quran terhadap uang atau harta seperti yang
dikemukakan sekilas ini, bertitik tolak dari pandangannya
terhadap naluri manusia. Seperti diketahui, Al-Quran
memperkenalkan agama Islam antara lain sebagai agama fitrah
dalam arti ajaran-ajarannya sejalan dengan jati diri manusia
serta naluri positifnya. Dalam bidang harta atau keuangan,
Kitab Suci umat Islam secara tegas menyatakan:

Telah menjadi naluri manusia kecintaan kepada lawan
seksnya, anak-anak, serta harta yang banyak berupa
emas, perak, kuda piaraan, binatang ternak, sawah, dan
ladang (QS Ali 'Imran [3]: l4).

"Harta yang banyak" oleh Al-Quran disebut "khair" (QS
Al-Baqarah [2): 180), yang arti harfiahnya adalah "kebaikan".
Ini bukan saja berarti bahwa harta kekayaan adalah sesuatu
yang dinilai baik, tetapi juga untuk mengisyaratkan bahwa
perolehan dan penggunaannya harus pula dengan baik. Tanpa
memperhatikan hal-hal tersebut, manusia akan mengalami
kesengsaraan dalam hidupnya.

Karena daya tarik uang atau harta seringkali menyilaukan mata
dan menggiurkan hati, maka berulang-ulang Al-Quran dan hadis,
memperingatkan agar manusia tidak tergiur oleh kegemerlapan
uang, atau diperbudak olehnya sehingga menjadikan seseorang
lupa akan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi.

PERANAN UANG

Merujuk kepada Mu'jam Al-Muhfaras (Kamus Al-Quran) oleh Fuad
Abdul Baqi, kata mal (uang) terulang dalam Al-Quran sebanyak
25 kali (dalam bentuk tunggal) dan amwal (dalam bentuk jamak)
sebanyak enam puluh satu kali. Diamati oleh Hassan Hanafi
sebagaimana dikemukakan dalam bukunya Ad-Din wa Ats-Tsaurah
bahwa kata tersebut mempunyni dua bentuk.

Pertama, tidak dinisbahkan kepada "pemilik", dalam arti dia
berdiri sendiri. Ini --menurutnya-- adalah sesuatu yang logis
karena memang ada harta yang tidak menjadi objek kegiatan
manusia, tetapi berpotensi untuk itu.

Kedua, dinisbahkan kepada sesuatu, seperti "harta mereka",
harta anak-anak yatim, "harta kamu" dan 1ain-1ain. Ini adalah
harta yang menjadi objok kegiatan. Dan bentuk inilah yang
terbanyak digunakan dalam Al-Quran.

Menurut hasil perhitungan penulis, bentuk pertama ditemukan
sebanyak 23 kali, sedang bentuk kedua sebanyak 54 kali. Dari
jumlah ini yang terbanyak dibicarakan adalah harta dalam
bentuk objok, dan ini memberi kesan bahwa seharusnya harta
atau uang menjadi objek kegiatan manusia. Kegiatan tersebut
adalah aktivitas ekonomi.

Dalam pandangan Al-Quran, uang merupakan modal serta salah
satu faktor produksi yang penting, tetapi "bukan yang
terpenting". Manusia menduduki tempat di atas modal disusu1
sumber daya alam. Pandangan ini berbeda dengan pandangan
sementara pelaku ekonomi modern yang memandang uang sebagai
segala sesuatu, sehingga tidak jarang manusia atau sumber daya
alam dianiaya atau ditelantarkan.

Modal tidak boleh diabaikan, manusia berkewajiban
menggunakannya dengan baik, agar ia terus produktif dan tidak
habis digunakan. Karena itu seorang wali yang menguasai harta
orang-orang yang tidak atau belum mampu mengurus hartanya,
diperintahkan untuk mengembangkan harta yang berada dalam
kekuasaannya itu dan membiayai kebutuhan pemiliknya yang tidak
mampu itu, dari keuntungan perputaran modal, bukan dari pokok
modal. Ini dipahami dari redaksi surat Al-Nisa' (4): 5 yang
dikutip di atas, di mana dinyatakan Warzuquhum fiha bukan
Warzuquhum minha. "Minha" artinya "dari modal", sedang "fiha"
berarti "di dalam modal", yang dipahami sebagai ada sesuatu
yang masuk dari luar ke dalam (keuntungan) yang diperoleh dari
hasil usaha.

Karena itu pula modal tidak boleh menghasilkan dari dirinya
sendiri, tetapi harus dengan usaha manusia. Ini salah satu
sebab mengapa membungakan uang, dalam bentuk riba dan
perjudian, dilarang oleh Al-Quran. Salah satu hikmah
pelarangan riba, serta pengenaan zakat sebesar 2,5% terhadap
uang (walau tidak diperdagangkan) adalah untuk mendorong
aktivitas ekonomi, perputaran dana, serta sekaligus mengurangi
spekulasi serta penimbunan. Dalam konteks ini Al-Quran
mengingatkan:

Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak
menafkahkan pada jalan Allah, maka beritahukanlah
kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang
pedih (QS Al-Tawbah [9]. 34)

Ancaman ini disebabkan karena uang/harta seperti dikemukakan
sebelum ini dijadikan Allah untuk sarana kehidupan manusia
dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Dan menyimpannya tanpa
perputaran, demikian juga penimbunan kebutuhannya, tidak
sejalan dengan tujuan tersebut.

Bagi pemilik uang yang tidak atau kurang mampu mengelola
uangnya, para ulama mengembangkan cara-cara yang direstui oleh
Al-Quran dan Sunnah Nabi, antara lain melalui apa yang dinamai
murabahah, mudharabah atau musyarakah

Murabahah adalah pembelian barang menurut rincian yang
ditetapkan oleh pengutang, dengan keuntungan dan waktu
pembayaran yang disepakati.

Mudharabah adalah bergabungnya tenaga kerja dengan pemilik
modal, sebagai mitra usaha dan keuntungan yang dibagi sesuai
rasio yang disepakati.

Musyarakah adalah memadukan modal untuk bersama-sama
memutarnya, dengan kesepakatan tentang rasio laba yang akan
diterima.

Cara-cara ini akan mendorong setiap pemilik modal untuk tidak
membiarkan modalnya tersimpan tanpa perputaran. Bukankah uang
--seperti dikemukakan di atas-- dijadikan Allah untuk sarana
kehidupan dan pemenuhan kebutuhan manusia?

KEBUTUHAN MANUSIA

"Kebutuhan" biasa diartikan sebagai "hasrat manusia yang perlu
dipenuhi atau dipuaskan".

Kebutuhan bermacam-macam dan bertingkat-tingkat, namun secara
umum ia dapat dibagi dalam tiga jenis sesuai dengan tingkat
kepentingannya. Primer (dharuriyat), sekunder (hajiyat), dan
tertier (kamaliyat).

Jenis kebutuhan kedua dan ketiga sangat beraneka ragam, dan
dapat berbeda-beda dari seorang dengan lainnya, namun
kebutuhan primer sejak dahulu hingga kini dapat dikatakan sama
dan telah dirumuskan oleh para pakar sebagai kebutuhan
sandang, pangan, dan papan.

Al-Quran secara tegas menyebutkan ketiga macam kebutuhan
primer itu dan mengingatkan manusia pertama tentang keharusan
pemenuhannya sebelum manusia pertama itu menginjakkan kakinya
di bumi. Ketika Adam dan istrinya Hawa masih berada di surga,
Allah mengingatkan mereka berdua:

Maka Kami berkata, "Hai Adam' sesungguhnya ini (iblis)
adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali
janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga
karena (jika demikian) engkau akan bersusah payah
Sesungguhnya engkau tidak akan lapar di surga, dan
tidak pula akan telanjang. Sesungguhnya engkau tidak
akan dahaga, tidak pula disengat panas matahari di sana
(surga)" (QS Thaha [20]: 117-119).

Yang dimaksud dengan bersusah payah adalah bekerja untuk
memenuhi kebutuhan mereka yang di dunia tidak diperoleh tanpa
kerja tetapi di surga telah disediakan yaitu pangan atau dalam
bahasa ayat di atas "tidak lapar dan tidak dahaga". Sandang
dilukiskan dengan "tidak telanjang", sedangkan papan
diisyaratkan oleh kalimat "tidak disengat panas matahari".

Sementara ulama menganalisis mengapa peringatan ini ditujukan
kepada mereka berdua selaku suami-istri, tetapi pernyataan
bersusah payah dikemukakan dalam bentuk tunggal yang ditujukan
kepada suami (Adam) saja. Jawabannya menurut mereka adalah,
karena kebutuhan sandang, pangan dan papan, merupakan
kebutuhan pria dan wanita (suami-istri), tetapi kewajiban
bersusah payah mencarinya, berada di pundak suami, sehingga
merupakan kewajiban suami untuk mengikhtiarkannya.

Ketiga jenis kebutuhan seperti yang disebut di atas, mengantar
manusia berikhtiar untuk memproduksi alat-alat pemenuhannya,
baik berupa barang maupun jasa.

----------------


WAWASAN AL-QURAN
Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat
Dr. M. Quraish Shihab, M.A.

0 vxcfgdsdhghgwegf yfteift:

Bagi teman yang ingin membaca Al-qur'an sila klik disini! dan jika ingin membaca Al-qur'an dan terjemahanya sila klik disini!

Pasang Iklan Gratiiisss

ads ads ads ads ads ads

Sudah siap Memulai Bisnis Internet ?

Bagi anda yang pengen dapat uang saku tambahan silakan coba yang satu ini, anda hanya di minta untuk mengklik iklan lalu anda dibayar.buruan daftar di donkeymails bawah ini DonkeyMails.com: No Minimum Payout

PUISI KU

Untaian Rindu Kurindu padaMu ... Kerinduanku ingin bisa lebih dekat denganMu Kuingin lebih merasakan kebersamaan denganMu Kuingin dihatiku Kau bersemayam Diatas segala-galanya Kapan aku bisa mencintaiMu Lebih dalam ... Dan jauh lebih tulus Aku benar-benar merindukanMu Rinduku yang tak berujung padaMu Rasa rindu yang mendalam Didalam hati Berilah percikan cintaMu didalam hati Hatiku haus akan cintaMu Dan begitu rindu akan diriMu

Ilmu Islam

  1. Ya ALLAH
  2. Pikirkan dan Syukurilah!
  3. Yang Lalu Biar Berlalu
  4. Hari Ini Milik Anda
  5. Biarkan Masa Depan Datang Sendiri
  6. Cara Mudah Menghadapi Kritikan Pedas
  7. Jangan Mengharap "Terima Kasih" dari Seseorang
  8. Berbuat Baik Terhadap Orang Lain, Melapangkan Dada...
  9. Isi Waktu Luang Dengan Berbuat!
  10. Jangan Latah!
  11. Qadha' dan Qadar
  12. Bersama Kesulitan Ada Kemudahan
  13. Jadikan Buah Lemon Itu Minuman yang Manis!
  14. Siapakah yang Memperkenankan Doa Orang yang Kesuli...
  15. Semoga Rumahmu Membuat Bahagia
  16. Ganti Itu dari Allah
  17. Iman Adalah Kehidupan
  18. Ambil Madunya, Tapi Jangan Hancurkan Sarangnya!
  19. "Dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang."
  20. "Ataukah mereka dengki pada manusia atas apa yang ...
  21. Hadapi Hidup Ini Apa Adanya!
  22. Yakinilah Bahwa Anda Tetap Mulia Bersama Para Pene...
  23. Shalat.... Shalat....
  24. "Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah ad...
  25. "Katakanlah: 'Berjalanlah di muka bumi!'"
  26. Sabar Itu Indah ...
  27. Jangan Meletakkan Bola Dunia di Atas Kepala!
  28. Jangan Sampai Hal-hal yang Sepele Membinasakan And...
  29. Terimalah Setiap Pemberian Allah dengan Rela Hati,...
  30. Selalu Ingatlah Pada Surga yang Seluas Langit dan ...
  31. "Demikianlah, Telah Kami Jadikan Kamu Umat Yang Ad...
  32. 32. Bersedih: Tak Diajarkan Syariat dan Tak Bermanfaat...
  33. Rehat
  34. Tersenyumlah!
  35. Rehat 2
  36. Nikmatnya Rasa Sakit
  37. Nikmatnya Rasa Sakit
  38. Seni Bergembira
  39. Rehat 3
  40. Mengendalikan Emosi
  41. Kebahagiaan Para Sahabat Bersama Rasulullah s.a.w....
  42. Enyahkan Kejenuhan dari Hidupmu!
  43. Buanglah Rasa Cemas!
  44. Rehat 4
  45. Jangan Bersedih, Karena Rabb Maha Pengampun Dosa d...
  46. Jangan Bersedih, Semua Hal Akan Terjadi Sesuai Qad...
  47. Jangan Bersedih, Tunggulah Jalan Keluar!
  48. Rehat 5
  49. Jangan Bersedih, Perbanyaklah Istighfar Karena All...
  50. Jangan Bersedih, Ingatlah Allah Selalu!
  51. Jangan Bersedih dan Putus Asa dari Rahmat Allah!
  52. Jangan Bersedih Atas Kegagalan, Karena Anda Masih ...
  53. Jangan Bersedih Atas Sesuatu yang Tak Pantas Anda ...
  54. Jangan Bersedih, Usirlah Setiap Kegalauan!
  55. Jangan Bersedih Bila Kebaikan Anda Tak Dihargai Or...
  56. Jangan Bersedih Atas Cercaan dan Hinaan Orang!
  57. Jangan Bersedih Atas Sesuatu yang Sedikit, Sebab P...
  58. Jangan Bersedih Atas Apa yang Masih Mungkin Akan T...
  59. Jangan Bersedih Menghadapi Kritikan dan Hinaan! Se...
  60. Rehat 6
  61. Jangan Bersedih! Pilihlah Apa yang Telah Dipilih A...
  62. Jangan Bersedih dan Mempedulikan Perilaku Orang
  63. Jangan Bersedih dan Pahamilah Harga yang Anda Sedi...
  64. Jangan Bersedih Selama Anda Masih Dapat Berbuat Ba...
  65. Jangan Bersedih Jika Mendengar Kata-kata Kasar, Ka...
  66. Rehat 7
  67. Jangan Bersedih! Sebab Bersabar Atas Sesuatu yang ...
  68. Jangan Bersedih Karena Perlakuan Orang Lain, Tapi ...
  69. Jangan Bersedih Karena Rezeki yang Sulit
  70. Jangan Bersedih, Karena Masih Ada Sebab-sebab yang...
  71. Jangan Memakai Baju Kepribadian Orang Lain
  72. 'Uzlah dan Dampak Positifnya
  73. Jangan Bersedih Karena Tertimpa Kesulitan!
  74. Rehat 8
  75. Jangan Bersedih, Inilah Kiat-Kiat untuk Bahagia
  76. Ulasan AL QURAN 1
  77. Ulasan AL QURAN 2
  78. Ulasan Mengenai TUHAN 1
  79. Ulasan Mengenai TUHAN 2
  80. Ulasan Mengenai TUHAN 3
  81. Ulasan Mengenai TUHAN 4
  82. Tentang Nabi MUHAMMAD S.A.W
  83. Tentang Nabi MUHAMMAD S.A.W - bagian 2
  84. Tentang Nabi MUHAMMAD S.A.W - bagian 3
  85. TAKDIR
  86. TAKDIR - bagian 2
  87. 87. TAKDIR - bagian 3
  88. KEMATIAN
  89. KEMATIAN - bagian 2
  90. Hari AKHIRAT
  91. Hari AKHIRAT - bagian 2
  92. Hari AKHIRAT - bagian 3
  93. Hari AKHIRAT - bagian 4
  94. Keadilan dan Kesejahteraan
  95. Keadilan dan Kesejahteraan - bagian 2
  96. Keadilan dan Kesejahteraan - bagian 3
  97. Makanan
  98. Ahklak bagian 2
  99. Ahklak bagian 3
  100. PAKAIAN
  101. PAKAIAN bagian 2
  102. PAKAIAN bagian 3
  103. PAKAIAN bagian 4
  104. Akhlak
  105. KESEHATAN
  106. KESEHATAN bagian 2
  107. PERNIKAHAN
  108. PERNIKAHAN bagian 2
  109. PERNIKAHAN bagian 3
  110. SYUKUR
  111. SYUKUR bagian 2
  112. SYUKUR bagian 3
  113. HALAL BIHALAL
  114. HALAL BIHALAL bagian 2
  115. MANUSIA
  116. MANUSIA bagian 2
  117. MANUSIA bagian 3
  118. PEREMPUAN
  119. PEREMPUAN bagian 2
  120. PEREMPUAN bagian 3
  121. PEREMPUAN bagian 4
  122. Masyarakat
  123. UMMAT
  124. KEBANGSAAN
  125. KEBANGSAAN bagian 2
  126. KEBANGSAAN bagian 3
  127. AHL AL KITAB
  128. AHL AL KITAB bagian 2
  129. AHL AL KITAB bagian 3
  130. AHL AL KITAB bagian 4
  131. AGAMA
  132. SENI
  133. SENI bagian 2
  134. EKONOMI
  135. EKONOMI bagian 2
  136. POLITIK
  137. POLITIK
  138. POLITIK bagian 2
  139. ILMU dan TEKNOLOGI
  140. ILMU dan TEKNOLOGI bagian 2
  141. KEMISKINAN
  142. MASJID
  143. MUSYAWARAH
  144. MUSYAWARAH bagian 2
  145. Ukhuwah
  146. Ukhuwah bagian 2
  147. JIHAD
  148. JIHAD bagian 2
  149. P U A S A
  150. P U A S A bagian 2
  151. LAILATUL QADAR
  152. W A K T U
  153. W A K T U bagian 2
  154. Nasihat untuk Menikah Menurut Islam
  155. Di Jalan Dakwah Aku Menikah
  156. Ringkasan buku : Aku Ingin Menikah, Tapi ... ::..
  157. ALASAN TEPAT UNTUK MENIKAH
  158. Keotentikan Al-Quran
  159. Bukti-bukti Kesejarahan Al - qur'an
  160. Penulisan Mushhaf Al-Qur'an
  161. Bukti Kebenaran Al-Quran bagian 1
  162. Bukti Kebenaran Al-Quran bagian 2
  163. Sejarah Turunnya dan Tujuan Pokok Al-Quran
  164. Periode Turunnya Al-Quran bagian 1
  165. Periode Turunnya Al-Quran bagian 2
  166. Periode Turunnya Al-Quran bagian 3
  167. Dakwah menurut Al-Quran
  168. Tujuan Pokok Al-Quran
  169. Kebenaran Ilmiah Al-Quran
  170. Sistem Penalaran menurut Al-Quran
  171. Ciri Khas Ilmu Pengetahuan
  172. Perkembangan Tafsir
  173. Hikmah Ayat Ilmiah Al-Quran
  174. Mengapa Tafsir Ilmiah Meluas? bagian 1
  175. Mengapa Tafsir Ilmiah Meluas? bagian 2
  176. Bagaimana Memahami Al-Quran di Masa Kini? bagian 1...
  177. Bagaimana Memahami Al-Quran di Masa Kini? bagian 2...
  178. Al-Quran, Ilmu, dan Filsafat Manusia
  179. Al-Quran di Tengah Perkembangan Ilmu
  180. Al-Quran di Tengah Perkembangan Ilmu bagian 2
  181. Al-Quran di Tengah Perkembangan Filsafat
  182. Al-Quran di Tengah Perkembangan Filsafat bagian 2
  183. Sejarah Perkembangan Tafsir
  184. Kodifikasi Tafsir
  185. Metode Tafsir
  186. Kebebasan dan Pembatasan dalam Tafsir
  187. Kebebasan dalam Menafsirkan Al-Quran
  188. Pembatasan dalam Menafsirkan Al-Quran bagian 1
  189. Pembatasan dalam Menafsirkan Al-Quran bagian 2
  190. Perubahan Sosial
  191. Perkembangan Ilmu Pengetahuan
  192. Bidang Bahasa
  193. Haramnya durhaka kepada kedua orang tua
  194. Syirik Kecil bagian 1
  195. Syirik Kecil bagian 2
  196. HUKUM MERAYAKAN HARI VALENTINE bagia 1
  197. HUKUM MERAYAKAN HARI VALENTINE bagia 2
  198. Hukum Mengenakan Pakaian Yang Bergambar Dan Menyim...
  199. Perkembangan Metodologi Tafsir
  200. Perkembangan Metodologi Tafsir 2
  201. Perkembangan Metodologi Tafsir 3
  202. Tafsir dan Modernisasi
  203. Tafsir dan Modernisasi 2
  204. Penafsiran Ilmiah Al-Quran
  205. Penafsiran Ilmiah Al-Quran 2
  206. Penafsiran Ilmiah Al-Quran 3
  207. Penafsiran Ilmiah Al-Quran 4
  208. Metode Tafsir Tematik
  209. Beberapa Problem Tafsir
  210. Metode Mawdhu'iy
  211. Keistimewaan Metode Mawdhu'iy
  212. Perbedaan Metode Mawdhu'iy dengan Metode Analisis
  213. Perbedaan Metode Mawdhu'iy dengan Metode Komparasi...
  214. Hubungan Hadis dan Al-Quran
  215. Fungsi Hadis terhadap Al-Quran
  216. Pemahaman atas Makna Hadis
  217. Fungsi dan Posisi Sunah Dalam Tafsir bgn 1
  218. Fungsi dan Posisi Sunah Dalam Tafsir bgn 2
  219. Ayat-ayat Kawniyyah dalam Al-Quran
  220. Al-Qur'an dan Alam Raya
  221. Pendapat Para Ulama tentang Penafsiran Ilmiah
  222. Segi Bahasa Al-Quran dan Korelasi Antar Ayatnya
Diberdayakan oleh Blogger.

Followers